Langsung ke konten utama

Postingan

Sepeda Listrik : Terobosan yang Kadang Masih Membuat Saya Resah

  Photo by Dwi Cahyo on Unsplash Bagaimana bila kawan-kawan menemukan anak yang masih di   bawah umur menaiki kendaraan tanpa   pengawasan orangtua. Masih diuntung bila menjumpainya di gang-gang komplek atau sekedar pelataran rumah. Nah, kalau berjumpa di pemberhentian lampu merah atau bangjo di tengah-tengah kota? Lha dhala. Mungkin saya dan teman-teman sudah banyak mengetahui kalau Indonesia merupakan negara sasaran untuk memasarkan produk otomotif negara industri. Seperti halnya jepang dan negara industri lainnya. Tapi, mirisnya justru negara-negara asal pencipta kendaraan yang kita pakai, tidak banyak menggunakan kendaraan pribadi seperti halnya sepeda motor dan mobil secara intens, bahkan bisa dibilang mayoritas lebih mengutamakan menggunakan transportasi umum ataupun jalan kaki. Tak sampai disitu, pada konteks kepemilikan kendaraan hampir di Indonesia dalam satu rumah bisa ada satu hingga tiga kendaraan bermotor,   jadi setiap anggota keluarga dipegangi sat...
Postingan terbaru

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Mari Meluruskan Pemahaman Umum Tentang Merokok

  Photo by Daniele Fotia on Unsplash Persinggungan dengan rokok Rokok sepertinya sudah menjadi hal lumrah yang bisa ditemui hampir pada setiap toko dan warung. Pun, pemakainya jangan diragukan lagi jumlahnya. Dari kalangan bawah hingga atas banyak yang jadi perokok. Saya sendiri bukanlah perokok, tapi dahulu tatkala merantau pernah menjadi perokok yang tak terlalu lama sih. Hanya 2 bulan kurang, itupun selalu beli rokok eceran. Dan akhirnya saya memutuskan berhenti karena tak menemukan apa kenikmatannya. Selain setiap hisapannya bikin kepala saya pusing, napas engap, dan mulut bau tembakau. Terlepas dari pendapat bahwa merokok ataupun tidak itu adalah hak pribadi masing-masing. Tapi tolonglah untuk para perokok, hargai keputusan yang gak merokok. Saya bisa bilang seperti ini sebab banyak ungkapan yang sering saya terima dari perokok yang masih aktif. Dan itu saya temui tidak sekali, tapi beberapa kali. Bukan laki-laki namanya kalau gak ngerokok Ini ungkapan yang sering saya ...

Langit dan Senja

  Bergegas kusiapkan barang bawaan yang tak begitu banyak. Ya, tak begitu banyak. Namun, bentuk yang kecil dan penuh printilan mengharuskanku meningkatkan kadar ketelitian saat menatanya di dalam tas. Hari ini ku berangkat tak seperti rutinitas sebelumnya yaitu di pagi hari, melainkan selepas duhur. Bimbingan pada dosen yang mendadak mengharuskanku mengikuti jadwal kosong beliau, Pak Muh. Kisahku hari ini bukan tentang Bimbingan dengan Pak Muh yang mendadak. Tapi perihal setelahnya. Tentang wanita bernama Senja. Pertemuanku dengan Senja hari ini memang telah ku jadwalkan semalam. Serba mendadak. Serba terburu-buru sebab rindu kami sudah membuncah. Oh iya, Senja adalah wanitaku, baru beberapa purnama kami bersama. Pertemuan kami berawal saat kami menjadi satu tim dalam sebuah agenda kampus. Satu bulan lebih masanya. Semua berawal saat pemberangkatan menuju lokasi agenda kampus ini. Entah apa yang kupikirkan. Kuputuskan untuk membonceng Senja tatkala menuju lokasi itu, Desa B. Obrola...

Malam yang Kulihat, Bukan Bintang

  Perjalanan Sal menuju puncak Gunung Lawu jalur Cemoro Sewu hari ini harus terhenti di pos 5 Jolotundo. Kelelahan dan hujan disertai badai petang tadi penyebabnya. Lagi pula perjalanan pendakian ini masih dalam kendalinya. Tidak molor. Mendirikan tenda di dekat warung menjadi keputusan yang telah ia rembuk dengan Lam. “ Kau bagian buat api unggun Lam! Biar aku yang menyiapkan masakan,” Ucap Sal sambil merajang kubis yang sudah hampir selesai. “ Kayaknya bakal lumayan lama ini apinya nyala, kayunya basah semua. Mana udah keburu lapar ini.” “Tenang kalo makanan cepet siapnya. Kamu lupa kalau kita bakalan masak pakek kompor portabel? Api unggun buat menghangatkan badan sama pakaian yang basah aja.” Lam seketika tepuk jidat. Sambil nyengar nyengir ia cepat memutar otak supaya apinya bisa segera menyala. Hening suara hiruk pikuk peradaban kota. Namun, keras suara jangkrik dan serangga lainnya seakan menjadi penggantinya. Seusai makan dan kegiatan lainnya. Mereka berdua merebahkan diri ...

Senapan

  Suara burung kutilang yang saling bersahut-sahutan di kebun belakang rumah . Menjadi semacam melodi alami pengiring hariku saat di kampung. Namun, ada hal yang akhir-akhir ini baru kusadari. Yaitu hilangnya kicauan beberapa burung lain yang dulu saat masa kecilku masih bisa kudengar bahkan kutemui wujud burungnya. Seperti burung sirtu yang berwarna hijau daun muda dan juga burung perenjak yang gesit dan lantang kicauannya. Mungkin kalau kutebak penyebab hilangnya burung-burung tersebut karena rusaknya habitat hingga mereka memilih bermigrasi. Atau kemungkinan kedua, sebab sering dipulut atau diambil sarangnya beserta anak burungnya oleh tetanggaku yang gila burung, Mas Laksa namanya. Ah, tapi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. *** Setelah selesai membersihkan kamarku. Kuputuskan merehatkan diri di teras rumah. Sambil membawa sebungkus rokok kretek, kuambil satu batang lalu membakar dan menghisapnya. Pandanganku mulai menyapu ke beberapa rumah tetangga. Sejurus pandan...

Jejak Bacaan Awal Tahun 2025 (1)

     Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum: 1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)      " Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.      Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.       Tahun lalu...