7. Catatan Najwa 2 (Karya: Najwa Shihab)
Mengenal sosok Najwa Shihab lewat acara Mata Najwa memanglah hal yang bagus. Ketajaman pertanyaan di setiap sesi wawancara atau debat dengan para tokoh ternama jadi semacam awal dari gereget melek dan kritis akan segala hal. Kesan yang saya dapat dari sosok Najwa Shihab selama ini begitu lekat akan hal-hal barusan. Kefasihan berbicara dan kuatnya argumen serta tentunya teguhnya tekad jadi insipirasi yang patut dicontoh.
Bila dari layar kaca saya melihat aksi nyata Najwa Shihab, nah sekarang lewat bukunya ini saya membaca dengan pelan bagaimana pandangan dan gagasannya. Ada 55 naskah dalam buku ini, buku ini bukan tipe buku yang penuh dengan tulisan dari ujung atas hingga bait bawah. Tapi berisi berbagai paragraf di setiap lembar tentang isu-isu yang disoroti Najwa. Serta ada tambahan 10 ilustrasi dari karya terpilih dan juga bonus 3 lembar foto Najwa Shihab.
Lewat kalimat-kalimat yang diksinya tegas dan tentunya gagasannya yang bernas. Najwa Shihab seperti ingin membuat pembaca membuka kembali kotak ingatan yang telah lalu, dan rawan lupa. Ada juga informasi tentang peristiwa lalu dari kacamatanya yang ingin disebarkan guna menyadarkan khalayak untuk lebih awas dan tentunya sadar.
Dalam bukunya ini saya kutip kalimat yang begitu menggetarkan saya "... mengingat adalah aksi politik paling sehari-hari, bahu membahu kita bangun benteng memori...(Hal 41: Catatan Hari Ham)" lewat kalimat ini saya rasa garis besar pesan yang ingin disampaikan Najwa Shihab adalah "mengingat". Lalu dengan apa kita bisa mulai membangun benteng memori? Dengan membaca (hal 137).
8. Terbunuhnya Udin (karya Aliansi Jurnalis Independen [AJI])
1994 adalah tahun dimana simbol perjuangan buruh yaitu Marsinah dibungkam karena memperjuangkan haknya. Lalu dua tahun berikutnya tepatnya 16 Agustus 1996 seorang wartawan harian Bernas bernama lengkap Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin dibungkam karena terlalu kritis menulis berita. Buku bertajuk Terbunuhnya Udin merupakan catatan pelik yang berisi kronologi pembungkaman Udin dan juga hal-hal yang menyertainya.
Buku yang terbit setahun pasca peristiwa Udin ini terbagi atas 7 bab yang bila diurutkan seperti ini kiranya: Bab kesatu → Wartawan Itu Dibunuh!, bab kedua →Berita-Berita Kritis, bab ketiga →Siapa Udin, bab keempat→Reaksi, bab kelima →Teror dan Intimidasi, bab keenam→Penyidikan dan Berbagai Kejanggalan, bab ketujuh →Mengapa Udin Harus Mati?
Setiap bab yang ada menjelaskan secara runut bagaimana seorang wartawan dibungkam. Berbagai berita yang ditulis Udin semasa hidupnya memang kerap dianggap terlalu kritis dan terang-terangan mengungkap kebobrokan rezim. Dalam kasus Udin ini pihak yang dikritik adalah pemerintah Bantul yang saat itu dinahkodai oleh Sri Roso Sudarmo. Berbagai puing-puing bukti dan dugaan atas kematian Udin dalam buku ini mengarah pada satu pelaku yaitu si Bupati Bantul.
Namun, dalam penegakan hukumnya pihak kepolisian malah seakan membuat sang bupati tak tersentuh dan malah memunculkan kambing hitam bernama Iwik. Dimana bila mengacu pada buku ini dan laporan hasil Tim Pencari Fakta (TPF) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) segala hal yang dilakukan polisi saat itu benar-benar seperti direkayasa. Dugaan terbunuhnya Udin yang disinyalir karena pembungkaman malah digeser motifnya menjadi karena perselingkuhan. Berbagai kejanggalan dalam pengusutan kasus ini benar-benar kentara manipulasinya.
Sepanjang membaca buku ini saya hanya bisa menggelengkan kepala karena kebobrokan sistem kepolisian yang memihak pada penguasa bukan pada keadilan. Hingga saat ini terhitung sudah 29 tahun pelaku pembunuhan Udin masih belum diadili. Miris.
9. Muslim Tanpa Mitos: Dunia Kuntowijoyo (karya Ahmad Syafii, Emha Ainun Najib, dkk)
Membaca buku ini adalah kali pertama saya berkenalan dengan sosok Kuntowijoyo. Sebelumya asing sekali di telinga saya akan nama tersebut. Seiring setiap lembar buku ini yang saya baca, semakin teranglah bagi saya siapa itu Kuntowijoyo. Ternyata Indonesia pernah memiliki sosok yang multitalenta dan benar-benar tekun dalam dunia intelektual.
Buku yang terbit pada tahun 2019 ini sebenarnya merupakan cetakan ulang dari versi awal yang pertama kali terbit pada tahun 2005 oleh penerbit Octopus. Kini dalam versi ini penerbit Octopus digandeng penerbit Immortal Publishing untuk menerbitkan ulang dengan beberapa tambahan tulisan.
Secara garis besar buku ini merupakan obituari dari orang-orang yang kenal dengan Kunto ataupun penikmat karyanya. Tulisan-tulisan yang tertoreh di dalamnya meliputi apresiasi akan jejak intelektual Kunto, juga atas ide-ide yang dicetuskannya dalam 3 lingkup atribusinya, yaitu sebagai seorang sastrawan sekaligus sejarawan dan juga sebagai pemerhati sosial-budaya-agama.
Dari buku ini saya jadi tahu akan adanya ilmu profetik cetusan Kunto yang sedikit saya tangkap dari salah satu tulisan milik Hamdy Salad. Bila secara dangkal saya jabarkan meliputi 3 karakter: amar ma`ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan tukminu billah (transendensi). Lalu pemahaman terhadap paradigma profetik memerlukan metode khusus yang oleh Kunto sendiri disebut Strukturalisme Transendental (hal. 106-107). Fakta baru ini menjadikan saya terpantik untuk menilik karya asli Kunto. Apalagi dikatakan dalam buku ini pula bahwa karya-karya Kunto baik itu di bidang sejarah atau sastra benar-benar memiliki kedalaman mutu dan kualitas.
Terakhir belajar dari sosok Kuntowijoyo yang semasa hidupnya baik ketika sehat hingga didera penyakit masih produktif dalam menulis, memberi tamparan tersendiri bagi saya yang masih dikaruniai kesehatan dan masa muda ~yang semoga panjang~masih enggan-engganan dalam menulis.
10. Khotbah di Atas Bukit (karya Kuntowijoyo)
Novel Khotbah di Atas Bukit merupakan karya dari Kunto yang saya baca seusai menuntaskan buku memoar tentangnya. Karya ini betul-betul membuat saya tertegun ketika baru saja tuntas membaca di halaman terakhir. Ketika sepanjang proses baca, kerap dalam diri saya muncul perasaan yang aneh tapi juga mulai saya sukai. Rasa akan tersentuhnya titik kesadaran dalam diri yang selama ini mengendap karena terlalu sibuk dengan sesuatu di luaran. Kontemplasi unik dengan media novel ini sungguh terjadi sepanjang mata ini menapaki kata per kata, kalimat per kalimat mengenai gulatan kehidupan Barman dan Popi, salah dua tokoh novel ini.
Pelbagai guratan kalimat filosofis berkali-kali saya temui di sini. Dengan membandingkan mana buku yang betul-betul memiliki kedalaman karya dengan yang tidak. Saya berkesimpulan kalau novel ini masuk ke karya dengan kedalaman jiwa yang dalam. Memang berdasarkan pengalaman saya membaca buku dengan ruh karya yang hidup sungguh tak banyak. Tapi ketika membaca novel ini saya merasa karya Kunto ini memiliki ruh tersendiri. Seakan ruh almarhum Kunto tersisa di dalamnya.
Baiklah akan saya coba cantumkan beberapa kutipan kalimat dalam novel ini, sebagai bukti bahwa kedalaman kontemplasi bisa saja kalian dapat ketika membacanya, semoga:
Parit ini mengalir ke sungai kita, Hidup kita pun seperti mengalir ke suatu tempat. Ke laut, jadi hujan dan mengalir lagi. (hlm.49)
Kalau pun kau masih menghitung juga, waktu pun akan sanggup mematikanmu, dengan kekuatannya. (hlm. 50)
Popi menganjurkan untuk tidak berpikir. Itu baik, tetapi untuk berhenti berpikir, orang harus lebih dulu menarik kesimpulan terakhir dari hidup ini. Itu suatu keberanian. Tidak berpikir yang lahir dari keputusasaan adalah pengecut. Ia ingin suatu bentuk pengendapan yang berani yang penuh pengertian. (hlm. 100)
Hidup dungu seperti ini adalah dosa, pikirnya. Orang-orang yang siang hari hilir mudik dan melepaskan hidup siang hari tanpa mengambil kebijaksanaan, itu dosa, nak. (hlm.100)
Namun, perlu digarisbawahi jika tata bahasa yang digunakan dalam novel ini masih lah merujuk ke zamannya sekitar 80 hingga 90 an. Sehingga perlu pemahaman ekstra dan kesabaran tersendiri guna menikmati semua halamannya.
11. Siapa yang Memantik Api? (karya Yeni Kartikasari)
Berawal dari ikut teman untuk mendatangi satu kedai kopi di Ponorogo. Sebuah tempat kecil yang diisi orang-orang dengan semangat besar menghidupkan literasi, Dinamit Kopi sekaligus lini penerbit independen Rusamenjana mempertemukan saya dengan orang-orang sefrekuensi, gemar dengan kata-kata. Dalam satu event pelatihan cerita pendek yang diadakan Rusamenjana, saya berkesempatan satu forum dengan orang-orang baru, salah satunya Yeni Kartikasari.
Tak berselang lama usai acara tersebut, Yeni ternyata meluncurkan buku perdananya yaitu kumpulan cerita berjudul Siapa yang Memantik Api? yang diterbitkan oleh Rusamenjana Publishing. Baru lah setelah beberapa bulan buku ini terbit saya akhirnya bisa membacanya.
Ketika membaca pengantar yang ditulis oleh Bung Frengky, pada awalnya saya tak terlalu memahami ide pokok bahasannya. Namun, seusai membaca cerpen pembuka bertajuk Bermain Api, mafhum lah saya bahwasannya buku ini adalah rupa rekam cerita tutur masyarakat Ponorogo. Setelah itu paham lah saya relevansi cerita di setiap halaman buku ini.
Ada semacam perasaaan dekat yang muncul ketika membaca setiap cerpennya. Beragam lokasi yang jadi latar di beberapa kisah, hampir pernah saya kunjungi. Taruh saja seperti Alun-Alun kota Ponorogo, Bungkal, makam Bong Cino di Tajug, hingga Pasar Legi. Sentuhan ini merubah ingatan yang sebelumnya tersimpan di rak kenangan kembali menguar ke luar untuk sekali lagi dibaca dan dilihat.
12.Laut Bercerita (karya Leila Salikha Chudori)
Buku yang saat periode awal saya mulai ingin membangun kebiasaan membaca berseliweran di beranda media sosial saya ini pada akhirnya bisa saya baca. Kesan awal saya sebelum dapat langsung menikmati buku dengan sampul indah ini adalah kemungkinan buku ini menghadirkan tentang petualangan bahari, seperti semacam film Finding Nemo atau Avatar: The Way of Water. Tapi setelah membaca tuntas hingga akhir ternyata isinya tak seperti itu, saya terkecoh.
Buku sastra novel yang berlatar dan terinspirasi dari kisah aktivis kalangan mahasiswa yang bergerilya menyalakan api semangat pembebasan di tengah rezim otoriter. Rezim orde baru jadi latar utamanya, kepemimpinan Soeharto yang fasis membuat segala hal yang berkaitan dengan kebebasan bependapat dan kritik dianggap mengancam status quo.
Novel ini rasanya lebih jelas menggambarkan rezim orde baru dengan lebih jelas daripada buku non fiksi. Mungkin karena sebelumnya saya sudah mengenal istilah "ketika jurnalisme dibungkam, maka sastra yang berbicara" yang menjadikan perspektif saya menangkap narasi dalam novel ini lebih nyata dari kenyataan. Karena mungkin bila di catatan non fiksi hanya fokus pada data, tapi tidak dengan sastra. Di sini nuansa dan atmosfer dibangun sehingga pembaca bisa ikut mendalami apa yang dirasakan tokoh di dalamnya.
Biru Laut dan Anjani adalah kakak beradik dalam novel ini sekaligus sudut pandang yang digunakan Leila S. Khudori untuk menjadi jembatan penceritaan kisah di dalamnya. Terbagi dalam dua bab utama, yaitu bab Biru Laut, yang menceritakan kisah dari sudut pandang tokoh Biru Laut dalam berjuang melawan rezim orde baru. Lalu bab 2 berisi sudut pandang adiknya yaitu Anjani Asmarajati, yang kehilangan kakaknya karena diculik tentara.
Usai membaca buku ini yang kaya akan semangat perlawanan atas ketidakadilan, pembungkaman, kehilangan, kekeluargaan, hingga solidaritas plus pengkhianatan saya jadi sedih malahan. Sebab ada satu kalimat yang diucapkan tokoh Laut yang sangat miris bila disandingkan dengan realita hari ini : Di dalam upaya yang panjang dan berjilid-jilid itu, pasti ada beberapa langkah yang signifikan. Aku tak tahu Indonesia macam apa yang kalian alami sekarang, aku harap jauh lebih baik dibanding di masa hidupku dan aku harap tak ada lagi penculikan dan pembunuhan terhadap mereka yang kritis. (Epilog, hlm.366). Miris rasanya bila membaca buku ini di tengah pemberian gelar pahlawan pada Soeharto yang bertepatan pada hari pahlawan 2025.
Sepertinya Indonesia yang sekarang tak pernah belajar dari masa orde baru, dan malah rezimnya rindu dengan masa itu. Berbagai penyakit otoriter sudah kian bermunculan, seperti KUHAP terbaru, UU Penyiaran, UU TNI, dan pelbagai hal yang membuat pemerintah jadi kian kuat kuasanya.
13. Inilah Esai (karya Muhiddin M. Dahlan)
Akhirnya dapat menyelesaikan sekuel buku "Inilah" karya Gus Muh. Setelah sebelumnya di tahun 2023 membaca Si Putih "Inilah Resensi", sebuah buku kiat tangkas dalam mengupas buku. Yang seusai membaca Si Putih ini semangat dan pengetahuan saya perihal resensi buku semakin bertambah (begitu juga kesadaran tentang banyaknya hal yang belum saya ketahui).
Di akhir tahun ini saya selesai membaca buku "Inilah Esai" atau Si Hitam. Buku yang memberi saya perspektif baru tentang jenis tulisan esai ini betul-betul berperan seperti orangtua yang menitih anaknya untuk berjalan pertama kalinya, atau ibarat juga seperti seorang guru yang memberi isi gelas kosong pengetahuan pada muridnya. Selaras dengan yang saya sebutkan kalau buku ini benar-benar memberi saya pedoman tangkas menulis esai. Memberi saya arah jelas kemana gagasan di kepala ini harus dituangkan dan dalam bentuk apa.
Esai dalam definisi buku ini adalah sebuah "tulisan coba-coba", jenis tulisan yang berada dalam taraf bebas mengeksplor ragam bentuk dan topik bahasannya. Di buku ini pula ragam bentuk esai diejawantahkan dan diberikan contoh konkritnya. Jadi memang paket komplit.
14. Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J. S. Khairen
Buku yang saya habiskan hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam 30 menit ini betul-betul membuat saya kembali hidup rasanya. Bagaimana tidak, ketika di era ini empati hampir sedikit demi sedkit terkikis oleh pola hidup yang serba individual, lewat buku ini kepekaan saya akan orang-orang lain dan terutama keluarga kembali pulih.
Jika kita pernah berpikir kalau rasanya tidak beruntung lahir dari keluarga dengan kondisi tertentu, seperti kemiskinan, broken home atau hal lain. Ada baiknya kita kembali memikirkan ulang pada siapa sebenarnya nasib ini kita pegang. Nasib kita ditentukan orang lain atau orang tua atau diri kita sendiri?
Nah, ada kutipan yang sungguh berarti dan mengubah perspektif saya: "Benar jika kau tak pernah memilih lahir dari orangtua yang seperti apa. Begitu juga orangtuamu, mereka tak pernah memilih melahirkan anak yang seperti apa. Maka keduanya dapat tanggung jawab dan anugerah yang sama" ~prolog episode 5.
Dari buku ini pula kegigihan hidup seseorang bisa terpantik dari kesadaran terlebih dahulu, kesadaran akan nasib yang bisa diubah serta keyakinan sekuat baja untuk mewujudkannya.
15. Buku yang Dipenjarakan: Memoar Orang Terbuang karya Sobron Aidit
Hidup kita memang terima atau tidak betul-betul tergantung pada keputusan politik. Apa yang diinginkan kekuasaan itulah yang akan dipatuhi masyarakat dan bisa menjelma jadi kebenaran atau ketakutan yang mendarah daging. Nah, buku ini ditulis oleh orang korban keputusan politik. Di mana ia harus menanggung kehidupan yang tidak mengenakkan dari hal tersebut selama hampir 30 tahunan dan mungkin hingga kini.
Buku ini ditulis oleh Sobron Aidit, adik dari DN Aidit pentolan PKI. Sobron yang menyandang nama belakang Aidit selama hidup seusai runtuhnya partai tempat abangnya berpolitik yaitu PKI. Di buku ini ada beberapa informasi yang menarik dan menjadi informasi baru bagi saya. Yaitu tentang adanya verifikasi berlapis yang perlu dilakukan bagi seorang pemustaka untuk dapat meminjam sebuah buku yang memiliki isi seputar PKI di masa orba. Dari satu info ini saya semakin yakin kalau ungkapan Michel Faocault Kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan menghasilkan kekuasaan ada benarnya. Karena zaman orba apa yang bisa diketahui publik adalah apa yang telah disetujui pemerintah. Dan apa yang tidak dikehendaki pemerintah untuk diketahui publik maka akan disimpan rapat-rapat.
Selain informasi di atas, dari buku ini pula saya mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan eksil atau warga penyintas yang tidak memiliki kewarganegaraan sebab keputusan politik zaman itu. Serta bagaimana dendam masyarakat terhadap PKI yang dinarasikan okeh rezim orba sebagai biadab, ateis, dan hal buruk lainnya ditumpah ruahkan kepada Sobron Aidit. Hal ini menjadikannya benar-benar nampak seperti orang terbuang, baik terbuang di negeri sendiri hingga bahkan di negeri orang.
Tulisan ini akan terus diperbaharui sampai akhir tahun, karena seturut itulah akan saya usahakan menambah bacaan di 2025 ini.
06/12/25
MNHB
Komentar
Posting Komentar