Langsung ke konten utama

Sepeda Listrik : Terobosan yang Kadang Masih Membuat Saya Resah

 

Photo by Dwi Cahyo on Unsplash

Bagaimana bila kawan-kawan menemukan anak yang masih di  bawah umur menaiki kendaraan tanpa  pengawasan orangtua. Masih diuntung bila menjumpainya di gang-gang komplek atau sekedar pelataran rumah. Nah, kalau berjumpa di pemberhentian lampu merah atau bangjo di tengah-tengah kota? Lha dhala.

Mungkin saya dan teman-teman sudah banyak mengetahui kalau Indonesia merupakan negara sasaran untuk memasarkan produk otomotif negara industri. Seperti halnya jepang dan negara industri lainnya. Tapi, mirisnya justru negara-negara asal pencipta kendaraan yang kita pakai, tidak banyak menggunakan kendaraan pribadi seperti halnya sepeda motor dan mobil secara intens, bahkan bisa dibilang mayoritas lebih mengutamakan menggunakan transportasi umum ataupun jalan kaki. Tak sampai disitu, pada konteks kepemilikan kendaraan hampir di Indonesia dalam satu rumah bisa ada satu hingga tiga kendaraan bermotor,  jadi setiap anggota keluarga dipegangi satu cekelan. Nah, kalau sudah seperti ini piye penak e pren? Oke-oke kita kesampingkan realita diatas. Itu tadi baru satu permasalahan bolo.

Nah, kalau teman-teman sadar kini kita sudah mulai masuk pada masa transisi peralihan penggunaan energi bagi kendaraan. Yang awalnya mayoritas kendaraan bermotor menggunakan bahan bakar minyak bumi baik itu bensin dan tetek bengek lainya, kini sudah sedikit demi sedikit berganti ke tenaga listrik. Tapi justru disini masalah lain mulai muncul.

Seperti saya singgung di atas, beberapa waktu lalu saat perjalanan ke kampus. Ketika berhenti di bangjo saya mendapati seorang anak kecil, bila saya perkirakan dari perawakannya kisaran usia mungkin 12 sampai 15 tahun.  Dengan menaiki sepeda listrik, dengan polosnya anak itu ikut berhenti di bangjo. Tanpa helm dan berada di tengah-tengah jalan. Dari arah kanan saya, ada emak-emak yang berucap dengan nada kesal “byuh, anak e sopo kuwi? Pit-pitan tekan bangjo, gek wong tuwone nang ndi?” bila diterjemahkan kiranya seperti ini artinya “anaknya siapa itu?main sepeda sampai lampu merah, orangtuanya kemana?”

Dari peristiwa itu saya jadi terpantik mempertanyakan beberapa hal. Dan juga ingin menuangkan keresahan saya, yang bisa jadi bukan hanya saya saja yang merasakannya.

Anggapan Tentang Sepeda Listrik

Seperti terang saya di awal. Bahwa sekarang kendaraan bertenaga listrik sudah bisa dijangkau masyarakat kelas menengah kebawah. Satu persatu orang mulai membelinya, entah karena kebutuhan, ikut-ikutan, atau keinginan peduli bumi sebab ramah lingkungan. Tapi jujur saya sendiri belum merasa urgent untuk membelinya. Sebab karena fungsinya masih bisa digantikan oleh sepeda biasa. Saya pun kadang bingung. Sepeda listrik itu masuk kategori sepeda konvensional atau mekanik? Ah, sepertinya pertanyaan ini tak perlu dijawab. Jelas jawabannya adalah hybrid.

Menyambung di awal, sebab hybrid, saat berada di jalanan apakah perlakuan  dan hak pengendara sepeda listrik itu harus disamakan dengan pesepeda atau pemotor? Itulah pertanyaan yang muncul di kepala saya saat emak-emak di bangjo nyinyir.

Suara Sepeda Listrik

Lanjut, saat ada di jalanan atau sedang nongkrong.  Saya sering kali dibuat risih oleh suara motor atau mobil yang berknalpot brong. Sungguh memekakkan telinga. Tapi, sepertinya harapan saya dari dulu dimana akan hilangnya brong-brongan sedikit memiliki harapan untuk  terwujud.

Sepeda listrik dan segala kendaraan bertenaga listrik lainnya selama ini dikenal memiliki suara mesin yang lirih. Bahkan menurut para orang tua yang baru pertama kali melihat sepeda listrik, mereka akan heran sebab  tak ada suaranya. Hal ini menjadi satu kelegaan tersendiri bagi saya. Sebab bagaimana bila suatu saat kendaraan tenaga listrik sudah mendominasi. Udara bebas polusi akan terwujud serta bising knalpot maupun mesin akan hilang. Semoga saja.

Namun, dengan adanya harapan di atas bukan berarti keresahan saya berakhir. Pasalnya, saya harus mulai membiasakan diri dengan masa peralihan ini. Suara sepeda listrik yang lirih kadang membuat saya kaget dan tak tahu akan kedatangannya. Taruh saja ketika berjalan santai di pinggir jalan. Tiba-tiba dari belakang melintas sepeda listrik, kadang saya akan mengumpat byuh ngagetne wae, moro-moro lewat ganok suarane. Mungkin dari teman-teman ada juga yang merasakan hal serupa?

Pamor Kulkas dan Mesin Cuci turun

Kalau keresahan yang satu ini agak nyeleneh dari dua hal sebelumnya. Sebab saya berpikir kalau melihat peringatan HUT kemerdekaan RI kemarin. Hadiah doorprize utama sudah tidak lagi mesin cuci ataupun kulkas. Tetapi sudah digantikan oleh sepeda listrik. Ya, kalau ada yang bilang hal ini bukan hal yang perlu dicemaskan. Tapi dalam kacamata saya. Kenyataan ini masih belum bisa saya terima, hehe. Predikat hadiah utama seharusnya disandang oleh kulkas atau mesin cuci, kasta tertinggi dalam dunia per-doorprize-an bukan malah sepeda listrik.

Mungkin cukup itu saja keresahan yang bisa saya tuliskan perihal sepeda listrik. Kalau teman-teman sendiri apakah memiliki keresahan yang sama? Atau bahkan lebih banyak?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Mari Meluruskan Pemahaman Umum Tentang Merokok

  Photo by Daniele Fotia on Unsplash Persinggungan dengan rokok Rokok sepertinya sudah menjadi hal lumrah yang bisa ditemui hampir pada setiap toko dan warung. Pun, pemakainya jangan diragukan lagi jumlahnya. Dari kalangan bawah hingga atas banyak yang jadi perokok. Saya sendiri bukanlah perokok, tapi dahulu tatkala merantau pernah menjadi perokok yang tak terlalu lama sih. Hanya 2 bulan kurang, itupun selalu beli rokok eceran. Dan akhirnya saya memutuskan berhenti karena tak menemukan apa kenikmatannya. Selain setiap hisapannya bikin kepala saya pusing, napas engap, dan mulut bau tembakau. Terlepas dari pendapat bahwa merokok ataupun tidak itu adalah hak pribadi masing-masing. Tapi tolonglah untuk para perokok, hargai keputusan yang gak merokok. Saya bisa bilang seperti ini sebab banyak ungkapan yang sering saya terima dari perokok yang masih aktif. Dan itu saya temui tidak sekali, tapi beberapa kali. Bukan laki-laki namanya kalau gak ngerokok Ini ungkapan yang sering saya ...

Jejak Bacaan Awal Tahun 2025 (1)

     Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum: 1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)      " Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.      Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.       Tahun lalu...