Suara burung kutilang yang saling bersahut-sahutan di kebun belakang rumah . Menjadi semacam melodi alami pengiring hariku saat di kampung. Namun, ada hal yang akhir-akhir ini baru kusadari. Yaitu hilangnya kicauan beberapa burung lain yang dulu saat masa kecilku masih bisa kudengar bahkan kutemui wujud burungnya. Seperti burung sirtu yang berwarna hijau daun muda dan juga burung perenjak yang gesit dan lantang kicauannya. Mungkin kalau kutebak penyebab hilangnya burung-burung tersebut karena rusaknya habitat hingga mereka memilih bermigrasi. Atau kemungkinan kedua, sebab sering dipulut atau diambil sarangnya beserta anak burungnya oleh tetanggaku yang gila burung, Mas Laksa namanya. Ah, tapi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur.
***
Setelah selesai membersihkan kamarku. Kuputuskan merehatkan diri di teras rumah. Sambil membawa sebungkus rokok kretek, kuambil satu batang lalu membakar dan menghisapnya. Pandanganku mulai menyapu ke beberapa rumah tetangga. Sejurus pandanganku berhenti di salah satu rumah. Di seberang sana, mataku mulai menyipit, berusaha memfokuskan pada satu objek. Terlihat sebuah sangkar burung yang terbuat dari kawat berisikan seekor burung perkutut. Kini sangkar itu dihinggapi dua burung gereja liar yang mungkin mencoba mencari sisa makanan perkutut.
Dari sekilas peristiwa itu kini pikiranku mulai berkecamuk. Berbagai pertanyaan yang sempat terkubur oleh kesibukanku akhir-akhir ini muncul kembali. Layaknya burung alap-alap menyambar mangsanya. Sungguh cepat.
Apakah seharusnya hidup itu selayaknya burung perkutut dalam sangkar itu. Yang makanan dan minumannya sudah terjamin oleh sang pemilik. Namun, dengan konsekuensi harus terkungkung dalam sangkar usang. Tak dapat terbang bebas. Atau hidupku harus tertatih-tatih mencari makanan dan kadang hanya menemui kelaparan di sepanjang hari selayaknya dua burung gereja itu. Namun, sebagai gantinya aku bisa terbang bebas tanpa dibatasi sangkar.
Dari situ semakin menjadi-jadi saja pikiranku. Akan tetapi kucoba mengambil gawaiku di dalam saku celana. Berharap bisa rehat sejenak dari pikiranku.
Kini media sosial menjadi tujuanku. Kubuka satu persatu postingan yang tampil di berandaku. Kupilih melihat postingan teratas, seorang temanku tampak kini sedang mengikuti ujian militer. Kugeser lagi, kini postingan seorang tokoh publik idolaku, menawarkan bukunya yang telah terbit. Karya pertamanya. Lalu, Kucoba geser lagi berharap ada sesuatu yang menarik. Kini malah postingan seorang anak miliarder yang mencoba membagikan uang kepada para penggemarnya. Terus seperti itu, melihat postingan media sosial malah membuat pikiranku semakin tak karuan. Memikirkan apa yang sudah kucapai di usia yang sudah hampir kepala tiga ini, serta apa pekerjaan yang kugeluti sudah benar.
***
Angan-angan tentang keriput wajah bapak dan ibu yang semakin kentara dan memenuhi wajah keduanya, semakin menambah beban yang kupikul. Kapan aku bisa membahagiakan keduanya. Lagi pula rasa-rasanya baru kemarin aku berangkat merantau. Terasa begitu cepat, semuanya berlalu. Kini kuputuskan ambil libur, pulang sejenak ke kampung halaman, merehatkan dari hiruk pikuk pekerjaanku.
“Nak, sini bantu Ibu!” terdengar suara perempuan yang ubannya mulai mendominasi mahkota indahnya.
Lamunanku pun buyar seketika mendengar suara ibu. Bergegas kucari dimana sumber suara. Dan kudapati ibu berada di samping rumah. Tengah berusaha mengambil jantung pisang kepok untuk dimasak. Masakan kesukaanku.
Setelah itu kubawa jantung pisang tersebut ke dapur agar segera dimasak. Ibu mengikuti pelan di belakang sambil sesekali mengambil beberapa daun ketela di sepanjang jalan, untuk dijadikan lalapan teman makan bersama oseng jantung pisang nanti.
Lima belas menit berlalu makanan telah tersaji. Kami bertiga pun menyantap makanan seadanya sambil menonton televisi berlayar tabung. Hasil pembelian ayah dulu dengan merelakan satu-satunya kambing miliknya, akibat aku yang merengek meminta dibelikan televisi. Kalau kuingat-ingat sungguh bodoh aku saat itu.
Dalam diam sambil mengecap makanan, tiba-tiba bapak melontarkan pertanyaan “Jok, itu di samping kopermu ada tas panjang. Bapak lihat isinya senapan. Itu punyamu?”
Aku seketika terperanjat. Lupa untuk segera menyembunyikan barangku tersebut. Alat utama pekerjaanku. Kuputuskan untuk akhirnya berbohong.
“iya pak ... itu memang senapan. Tapi bukan punya Joko. Punya Mas Laksa, dia titip untuk dibelikan senapan, dekat tempatku kerja.”
Bapak mendengus sambil beberapa kali melontarkan kalimat penuh kekecewaan. Barangkali kesal dengan perbuatan Mas Laksa yang sering berburu hewan menggunakan senapan. Mulai dari burung, biawak dan hewan-hewan lain. Menjadikan satwa di sekitar lingkungan rumahku berkurang.
Tak mau terus menerus membahas hal tersebut kuputuskan bergerak memecah suasana, mengambil remot televisi dan mengganti channel televisi. Kini kuputuskan berhenti di channel yang menampilkan berita reportase langsung peristiwa penyergapan sindikat penyelundup satwa yang dilindungi.
Melihat tayangan tersebut, seketika juga ibu berpesan padaku “nak, kamu jangan sampai kayak orang-orang itu ya. Kasihan hewan tidak salah apa-apa kok ditangkap. Apalagi itu hewan yang dilindungi,” ucap ibu sambil tangan keriputnya menunjuk ke layar televisi.
Aku seketika tertegun mendengar wejangan itu. Tapi tiba-tiba layar gawaiku menyala. Terlihat sebuah pesan dari teman kerjaku, Anton. Pesan itu bertuliskan “Jok, kita ketahuan, semuanya terbongkar. Polisi mengepung markas.”*
#Cerpen_Absurd
#M.N.H.B.
Magetan, 4 Maret 2025

Komentar
Posting Komentar