Langsung ke konten utama

Malam yang Kulihat, Bukan Bintang

 




Perjalanan Sal menuju puncak Gunung Lawu jalur Cemoro Sewu hari ini harus terhenti di pos 5 Jolotundo. Kelelahan dan hujan disertai badai petang tadi penyebabnya. Lagi pula perjalanan pendakian ini masih dalam kendalinya. Tidak molor. Mendirikan tenda di dekat warung menjadi keputusan yang telah ia rembuk dengan Lam.

Kau bagian buat api unggun Lam! Biar aku yang menyiapkan masakan,” Ucap Sal sambil merajang kubis yang sudah hampir selesai.

Kayaknya bakal lumayan lama ini apinya nyala, kayunya basah semua. Mana udah keburu lapar ini.”

“Tenang kalo makanan cepet siapnya. Kamu lupa kalau kita bakalan masak pakek kompor portabel? Api unggun buat menghangatkan badan sama pakaian yang basah aja.”

Lam seketika tepuk jidat. Sambil nyengar nyengir ia cepat memutar otak supaya apinya bisa segera menyala.


Hening suara hiruk pikuk peradaban kota. Namun, keras suara jangkrik dan serangga lainnya seakan menjadi penggantinya.

Seusai makan dan kegiatan lainnya. Mereka berdua merebahkan diri di dalam tenda. Resleting tenda masih terbuka setengah, sengaja dibiarkan supaya hangat bara api masuk ke dalam.

Dalam keheningan obrolan keduanya hanyut. Hingga di satu titik topiknya menjadi lebih dalam.

“Oi Lam, kalo seumpama atap tenda ini hilang tiba-tiba. Apa yang pertama kali bakal kelihatan menurutmu?” Tanya Sal sambil menekuk kedua tangan ke bawah kepalanya untuk bantal.

Mata Lam mengerjap-ngerjap membayangkan apa yang akan ia lihat kalau hal tersebut terjadi.

“Mungkin puluhan pendar bintang yang saling berusaha menyombongkan sinarnya dan tentunya gelap gulita malam yang dengan sukarela menyelimuti
 bumi.”

Seketika senyap sebentar di antara mereka berdua. Sal sibuk mencerna ucapan Lam barusan.

“Kalo kamu Sal?”

“Kalo aku mungkin seekor kelelawar dan burung hantu yang terbang senyap. Lalu keduanya jatuh tiba-tiba. Sebab kaget ada dua manusia kurang kerjaan di bawah mereka."

“Eh buset, kurang kerjaan dari mana? Lha wong kita naik gunung aja biar gak ada kerjaan,” sanggah Lam seketika.

Sal tertawa mendengar ucapan Lam barusan.

Yailah sama binatang aja naik darah kamu Lam.”

“Iyalah, kalo gitu adanya gak bos gak kelelawar, keduanya sama-sama gak mikirin kalo kita ini juga butuh rehat.”

“Saban hari bangun, berangkat kerja, capek, terus pulang tidur. Besok gitu lagi template.”

Lagi-lagi senyap sejenak. Sal mencoba mencerna keluhan Lam barusan. Selang satu menit akhirnya ia mulai berbicara lagi.

“Kalau dipikir-pikir iya juga. Kadang kita terlalu fokus bergerak tanpa melambat sejenak. Muhasabah diri tentang arah dan makna hidup kita ya Lam.”

“Nah, makanya kalo hidup jangan terlalu lempeng. Mesti keluar zona nyaman. Naik gunung misalnya? Atau hal lain yang kita suka.”

“Eh, tumben kamu bijak. Apa ini efek habis makan oseng kubis tadi?”

“ Lagi pula kalau gak ada libur hari buruh sama hari pendidikan mana bisa kita sampai sini. Lha wong ngajukan cuti aja susahnya minta ampun. Kalo milih bolos gaji kita yang diembat.”

“Huftt, iya bener lagi."

Akhirnya tawa keduanya pecah dan hembusan angin malam mulai terasa dingin menusuk. Bara api telah padam. Lam bangkit menutup resleting tenda. Keduanya pun terlelap di dalam sleeping bag masing-masing.

Magetan, 6 Mei 2025

#M.N.H.B

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Mengulas bacaan tahun 2023 (Part2)

     (PART 2)        Buku “Melawat Ingatan” sebuah novela karya Ruly R . Foto Novela "Melawat Ingatan"           Sebuah buku yang cocok untuk dibaca dikala pikiran perlu rehat dari hiruk pikuk pekerjaan atau perkuliahan. Buku yang masuk dalam kategori novela ini merupakan salah satu karya dari founder Dinamit Kopi X penerbit Rusamenjana di Ponorogo yaitu Ruly R.  Sejujurnya pada awalnya mengenai perbedaan antara sebuah novel dan novela tak terlalu saya mengerti. Pikir saya, mungkin salah dalam penulisan atau Typo.  Ternyata setelah membuka KBBI saya menemukan perbedaannya.       Jika novel secara garis besar menceritakan kehidupan seseorang atau tokoh dan cenderung lebih kompleks permasalahannya. Entah satu konflik atau lebih di dalamnya. Beerbeda dengan novela. Karya satu ini sama-sama sebuah prosa yang panjangnya lebih dari cerpen namun tak sepanjang novel. Pun juga dalam novela lebih berkut...

Mengulas kembali bacaan yang dibaca pada tahun 2023 lalu (PART 1)

- Part 1      Buku merupakan hal yang tak akan lekang oleh waktu. Di dalam buku terdapat hal kekal yaitu tulisan. Tulisan terdiri dari kata dan aksara, yang merupakan bukti perkembangan peradaban yang paling tua yang diwariskan oleh para nenek moyang. Kehebatan dari sebuah buku terbukti membuat akal para pembaca bereaksi hingga menimbulkan proses berlogika serta berpikir dengan wujud hasil pemahaman dan penafsiran atas isi buku yang dibaca. Pernah salah satu orang mengutarakan pendapatnya bahwa kehebatan dari sebuah buku adalah saat benda mati itu (buku) ditulis maka sang penulis melakukan proses berpikir dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Lalu buku karya penulis tersebut dibaca oleh pembaca dan lagi-lagi terjadi proses berpikir guna memahami isi dari tulisan tersebut hingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda oleh para pembaca. Hebatnya lagi buku merupakan alat untuk berkomunikasi lintas waktu secara tidak langsung. Penulis yang sudah mati akan tetap abadi dala...