Bergegas kusiapkan barang bawaan yang tak begitu banyak. Ya, tak begitu banyak. Namun, bentuk yang kecil dan penuh printilan mengharuskanku meningkatkan kadar ketelitian saat menatanya di dalam tas.
Hari ini ku berangkat tak seperti rutinitas sebelumnya yaitu di pagi hari, melainkan selepas duhur. Bimbingan pada dosen yang mendadak mengharuskanku mengikuti jadwal kosong beliau, Pak Muh.
Kisahku hari ini bukan tentang Bimbingan dengan Pak Muh yang mendadak. Tapi perihal setelahnya. Tentang wanita bernama Senja.
Pertemuanku dengan Senja hari ini memang telah ku jadwalkan semalam. Serba mendadak. Serba terburu-buru sebab rindu kami sudah membuncah.
Oh iya, Senja adalah wanitaku, baru beberapa purnama kami bersama. Pertemuan kami berawal saat kami menjadi satu tim dalam sebuah agenda kampus. Satu bulan lebih masanya.
Semua berawal saat pemberangkatan menuju lokasi agenda kampus ini. Entah apa yang kupikirkan. Kuputuskan untuk membonceng Senja tatkala menuju lokasi itu, Desa B. Obrolan kami sepertinya satu frekuensi. Dan hal itu lama kelamaan menumbuhkan kuntum asmara diantara kami berdua.
Hari ini Kukabarkan lewat gawai, Senja yang berada di seberang sana untuk menungguku di depan perpustakaan, sebab tujuan pertama kami adalah tempat tersebut.
“Kita nanti bertemu di depan perpustakaan ya!”
“Ah, baiklah. Masih lama kah agenda bimbingan mu?”
“Mungkin paling lambat pukul 13.45 aku keluar dari gedung E, kalaupun keluar cepat, akan segera kutelepon”
“ Oke, Langit, berkabar saja ya nanti,” kuakhiri percakapan daring itu dengan stiker andalanku. Jempol.
Aku keluar dari gedung E lebih cepat. Pukul 13.15 tepatnya. Berjalan sambil tergesa-gesa, kubuka gawai. Kutekan gambar ponsel di ujung kanan layar. Pada sebuah nama kontak yang paling atas, sebab kusematkan.
Tak butuh waktu lama, dering gawai milik Senja di seberang sana. Sepertinya cepat disadarinya. Teleponku pun diangkat.
“Halo, Senja. Aku sudah keluar dari gedung. Selesai lebih cepat dari dugaanku. Apa kau sudah ada di lokasi?”
“Ah, aku baru saja selesai mandi. Maaf, aku sepertinya akan sedikit telat. Ini sungguh diluar prediksiku, Langit.”
“Huftt, baiklah. Jangan mengebut saat berangkat kesini!”
“Kukira paling cepat kau selesai 13. 30."
“Sudah, letakkan gawaimu dan lekas berangkat!”
“Oke, tunggu!”
Telepon singkat itu pun berakhir dengan Aku yang menunggu di lobby perpustakaan. Sementara sendiri.
Untungnya ruangan itu tenang dan memiliki penyejuk ruangan. Tak begitu buruk. Bisa untuk mengusir gerah akibat cuaca yang terik.
Lima menit, sepuluh menit, dan di menit yang ke lima belas, gawaiku bergetar. Pertanda ada telepon masuk. Kuangkat. Suara di seberang sana sangat kurindukan. Padahal hanya beberapa anak tangga saja aku sudah bisa menemuinya. Tapi sungguh menyesakkan. Sial.
“Aku di bawah, Langit.”
“Aku di atas , Senja.”
“Ala, aku malu naik sendiri.”
“Baiklah, kususul ke bawah. Tunggu!”
“Kebiasaan, manja lagi,” batinku sambil menuruni sepuluh anak tangga. Dan berakhir di bawah basement parkiran kampus.
Sebenarnya Senja adalah wanita tangguh . Tapi jawabnya saat kutanya mengapa hal sepele selalu tak ditangani oleh dirinya sendiri. Dia berkata “mumpung ada kekasih, harus bermanja-manja, hehe. Kalau gak ada mana bisa.”
Setelah mendapatkan jawaban tersebut. Akhirnya aku mafhum akan hal serupa selanjutnya. Sebab dia wanitaku. Satu-satunya, selain Bundaku. Ya, walaupun kadang kala masih dibarengi dengusan napas.
Saat naik ke lobby tempat aku menunggu tadi. Terlebih dulu tas kami letakkan di dalam loker penyimpanan. Nomor 53 yang tak ada kuncinya. Sia-sia tapi tak apa. Konon demi, prosedur. Akhirnya tas kami tinggal tanpa mengunci loker. Hanya bermodal CCTV yang mungkin jangkauan tangkapan lensanya tak sampai di sudut loker kami. Miris.
Kartu anggota kudekatkan di mesin kecil berwana hitam. Sensor merah akan menyala ketika ada kartu dengan barcode tertera di atasnya berada di jarak ideal. Tak terlalu jauh atau dekat.
Akhirnya kami naik ke lantai 3. Tempat dimana peminjaman buku bisa dilakukan. Tentunya dengan menaiki anak tangga. Bukan lift.
Kubuka pintu kaca kokoh yang tertera tulisan ‘dorong & tarik’. Diikuti Senja masuk setelahku. Senyap dan tenang. Itulah kesan yang kurasakan saat memasuki ruang berisi rak buku berjajar tersebut.
Baru beberapa saat kami berkeliling. Aku mendadak menjadi tour guide bagi Senja, yang notabene baru pertama kali berkunjung ke perpustakaan kampus selama berkuliah. Heran itu pasti, tapi aku telah mafhum akan hal ini. Kujelaskan semuanya dengan senang hati, sebab dia wanitaku.
Tak begitu lama kami berkeliling di lantai 3. Akhirnya kami naik ke lantai 4. Sebab di lantai 3 ini, paling banyak memuat fokus bidang filsafat, agama, dan teori teori. Sedangkan yang dicari Senja adalah buku sastra, novel dan kumcer lebih tepatnya.
“Kalau rak berisi novel dan kumcer dimana Lang?”
“Novel?”
“Iya, novel.”
“Ya, kalau itu gak ada di lantai ini. Adanya di atas, lantai 4.”
Kuantar Senja menuju bagian yang diinginkannya. Dari pintu masuk kuajak dia berbelok kearah kiri. Sejurus kami memandang, kumpulan skripsi yang dominan dengan hardcover berwana hijau telah berada di hadapan kami berdua.
Ada beberapa rak yang cukup tinggi. Sehingga menciptakan sekat-sekat yang cukup untuk dilewati dua orang. Kuikuti saja kemanapun arahnya. Penasaran kini menjadi pemandunya, sementara aku bisa rehat sambil menatap lamat-lamat wajah menggemaskannya. Ya, gemas.
Seperti keyakinan ku bahwa tak ada yang kekal. Keingintahuannya melihat bagian rak skripsi akhirnya habis sudah. Pintanya untuk dibawa ke bagian sastra akhirnya datang lagi.
“Lang, mana bagian sastra?” Ucapnya sambil berjalan penuh semangat di depanku.
“Itu, ke arah kanan dari pintu masuk tadi.” Kujawab sambil berusaha mendahuluinya, peran tour guide kini kumainkan lagi.
Aku pun akhirnya ikut juga mencari-cari barangkali ada koleksi baru yang sudah disusun di rak ini. Sebab hanya beberapa karya dari penulis tertentu saja yang kubaca disini. Seperti karya-karya Mochtar Lubis, Jalaluddin Rumi, Goenawan Mohamad, dan penulis besar lainnya.
Sejurus kuberhenti dan mulai mengamati dengan lebih saksama. Berharap ada buku bagus yang tak kusadari keberadaannya. Luput dari perhatianku. Benar saja, dihimpitan buku bagian bawah kutemukan buku kumpulan puisi-puisi karya Pak Sapardi, Hujan Bulan Juni. Kuambil dan kubawa sementara, dan kuteruskan mencari lagi. Kini perhatianku tertuju pada buku kumpulan cerpen pilihan kompas 1994 bertajuk Lampor. Dan terakhir pilihanku tertuju pada buku karya Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung.
Sejenak perhatianku yang terfokus pada buku, membuatku kehilangan jejak Senja. Dengan sedikit menyipitkan mata, sebuah upaya menjadikan mata lebih fokus dan berharap menjadi teropong, padahal tak berefek seperti itu juga. Aku melihat dari sela sela yang ada di deretan buku. Nafas lega, ternyata Senja ada di balik rak tempatku berdiri saat ini.
Kutanyakan apakah dia sudah menemukan buku yang dicarinya. Namun, gelengan kepala yang bisa kulihat dari sela jajaran buku, cukup memastikan jawaban yang kudapat. Belum.
Bergegas aku menuju tempatnya, menanyakan buku apa yang sebenarnya dia cari. Ternyata kumpulan cerita yang bertajuk Negeri Kaos Kaki Ajaib dan Perjalanan Sang Waktulah yang dicarinya. Kuingat-ingat apakah aku pernah menjumpainya atau tidak. Ketika aku disibukkan perihal buku. Lagi-lagi Senja hilang dari pengawasanku. Dan lagi-lagi dia kutemukan asyik melihat-lihat bagian rak berisikan Jurnal ilmiah. Lega rasanya.
Kuputuskan untuk menunggunya saja dengan cara duduk di bangku dan meja yang telah disediakan. Meja dengan bentuk semi oval, dengan kurang lebih sepuluh kursi bisa muat mengelilinginya. Kubuka terlebih dahulu salah satu dari tiga buku tadi. Kini kuawali dengan Hujan Bulan Juni.
Tak berselang lama aku membaca buku, tampak dari jendela hujan turun. Petrikor menyerobot masuk ke hidungku. Aku terheran bagaimana bisa ruangan di lantai teratas ini bisa tercium petrikor. Belum selesai keheranannku, mataku tiba-tiba berkunang-kunang, lalu gelap.
Terbelalak mataku melihat kondisi sekitar. Sepi dan tak ada orang. Dua orang yang tadinya juga ada bersama kami di lantai 4. Entah hilang kemana. Ketika kusadari ternyata sekarang sudah tengah malam.
“Astaga, kenapa tiba-tiba sudah gelap?” teriakku seketika. Namun tak ada jawaban atau orang kaget dengan suara kerasku.
Kucoba mengamati sekitar dan Senja sudah hilang dari pandanganku untuk yang ketiga kalinya. Degup kencang jantungku tak bisa lagi aku sembuyikan . Takut, sangat takut. Bukan takut akan kegelapan dan kesendirian. Akan tetapi takut akan dimana keberadaan Senja yang tak kuketahui.
Bersambung….
M.N.H.B
Magetan (Sabtu, 19 Oktober 2024)

Komentar
Posting Komentar