Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum:
1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)
"Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.
Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.
Tahun lalu dalam daftar buku yang saya tuntaskan tak ada karya Mochtar Lubis yang saya baca. Entah bagaimana bisa saya lupa memasukkannya dalam daftar bacaan. Namun, tahun ini syukurnya saya ingat kalau ada target yang harus saya tuntaskan. Pemantiknya ialah dengan diadaptasinya novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi sebuah film. Hal inilah yang seakan menjadikan saya harus segera membaca versi novelnya terlebih dahulu sebelum melihat adaptasinya.
Sebagaimana kutipan di awal. Novel satu ini menghadirkan nuansa yang membuat saya ikut merasakan rasa takut sepanjang membacanya. Rasa takut yang dirasakan setiap tokoh dalam novel ini. Mulai dari Guru Isa, Hazil, Fatimah hingga penjaga toko kelontong. Dengan latar waktu pasca kemerdekaan, ketika Indonesia masih belum sepenuhnya keluar dari jerat kolonial. Perjuangan gerilya rakyat dalam mengusir sisa penjajah dari Indonesia masih gencar dilakukan.
Nah, disini menurut saya uniknya karakter yang digunakan oleh Mochtar Lubis. Bukan menghadirkan tokoh yang gagah berani serta siap sedia untuk maju perang akan tetapi menghadirkan seorang guru sebagai wajah utamanya yaitu Guru Isa. Seorang manusia biasa yang setiap harinya diabdikan untuk mengajar murid-muridnya. Dan setiap hari itu pula ketakutan menyertai dirinya ketika mengajar. Pertemuan tidak sengaja dengan Hazil, pemuda yang bergerilya akhirnya ikut menyeret Guru Isa ke dalam sumber ketakutan yang selama ini dirinya hindari.
Setelah selesai membaca novel ini hingga akhir. Akhirnya saya mafhum arti dari kutipan pembuka di awal novel. Apa hal yang bisa menghilangkan ketakutan dalam diri kita? Dan jawabannya adalah tidak ada. Kita hanya bisa terus menghadapinya walaupun pada akhirnya akan bertemu ketakutan lain di masa mendatang karena ketakutan adalah Jalan Tak Ada Ujung.
2. Ababil dan Tiga Kitab Iblis (Karya : Irfan Wijaya)
Saya membeli novel ini karena pada saat itu keinginan untuk membaca buku bertajuk Iblis Menggugat Tuhan begitu tinggi. Dengan adanya kata iblis dalam tajuk novel ini membuat saya berpikir mungkin akan serupa kisah di dalamnya. Dimana akan menampilkan sudut pandang Iblis. Tapi ternyata tidak (baca dengan gaya bicara Coki Pardede). Ekspektasi saya terhadap buku ini sungguh salah. Ternyata buku ini merupakan buku bergenre aksi, fantasi, dan religi.
Bagi saya merupakan hal baru untuk sebuah buku mengambil inspirasi dari Islam lalu dijadikan sebuah fiksi aksi. Karena ini merupakan kali pertama saya membaca buku semacam ini, rasanya agak sedikit aneh. Biasanya membaca suatu buku yang memuat hal-hal religi akan membuat hati menjadi tenteram karena nasihat yang sampaikan. Nah, ketika membaca buku Ababil dan Tiga Kitab Iblis ini jantung saya berdebar karena adegan-adegan aksi yang ada. Walaupun tetap terkadang terselip pesan dan nasihat Islam di dalamnya.
Ada kesamaan dari novel Jalan Tak Ada Ujung dengan Ababil. Letaknya pada tokoh utama yang terseret dalam hal yang sebelumnya tak mungkin mau mereka ambil. Jika Guru Isa seorang guru yang terpaksa ikut bergerilya maka Bintang seorang wartawan lepas harus ikut terlibat melawan kelompok pemuja iblis.
3. Harimau Harimau (Karya: Mochtar Lubis)
Karya Mochtar Lubis ke empat yang saya baca ini lagi -lagi membuat saya kagum akan sosok Mochtar Lubis. Begitu apiknya beliau menuliskan karakter yang begitu kompleks maupun perkembangan karakternya dalam pengungkapan jati diri masing-masing memang layak mendapatkan penghargaan. Hampir serupa dengan Jalan Tak Ada Ujung, unsur rasa takut dalam novel ini digunakan untuk eksplorasi sisi gelap setiap karakternya.
Seperti tajuknya Harimau! Harimau! sosok yang digunakan Mochtar Lubis untuk mengungkap sisi gelap setiap karakternya adalah seekor harimau. Di tengah ketakutan akan diterkam harimau mulai dari Buyung, Sanip, Wak Katok, Pak Haji, Sutan, Balam semuanya terpaksa harus membeberkan setiap keburukan yang telah mereka lakukan. Sebuah pengakuan yang karena kondisi memang harus dilakukan.
Baru belakangan saya sadar bahwa buku Manusia Indonesia ternyata terbit setelah novel Harimau! Harimau! keluar. Menariknya, karya-karya Mochtar Lubis sebelum Manusia Indonesia sebenarnya sudah mengandung substansi enam poin tentang sifat manusia Indonesia versi beliau. Beberapa di antaranya—seperti kepercayaan pada takhayul dan sikap hipokrit—hidup dan berdenyut di halaman-halaman Harimau! Harimau!. Para tokohnya memandang setiap peristiwa yang mereka alami dalam perjalanan pulang dari mencari damar sebagai sesuatu yang mistis: mulai dari keyakinan bahwa harimau yang menyerang rombongan mereka adalah harimau jadi-jadian, hingga kepercayaan mereka pada perjimatan.
4. Tewasnya Gagak Hitam (Karya: Sidik Nugroho)
Kalau sebelumnya seorang guru dan wartawan yang terpaksa terlibat dalam sebuah alur peristiwa yang tak disangka-sangka. Kini dalam novel bergenre misteri ini polanya hampir sama, yaitu seorang pelukis yang terlibat dalam pengungkapan penyelidikan kematian seorang penulis. Yang membedakan dari kedua pola sebelumnya adalah pelibatan pelukis yang bernama Elang dalam kasus penyelidikan kematian adalah sisi yang menurut saya sangat masuk akal.
Jadi begini, dalam novel ini premis yang digunakan adalah bahwasanya seorang seniman apalagi pelukis pasti memiliki imajinasi yang tak sama seperti orang kebanyakan dan juga ketelitian yang berada pada tingkat berbeda. Dengan dasar tersebutlah Elang sang pelukis bisa dilibatkan. Kebuntuan yang dialami penyidik bernama Agung dalam menerka motif kematian pelukis bernama Gagak Hitam membutuhkan sudut pandang baru dalam merekonstruksi kejadian di TKP. Dengan adanya kebutuhan dari kepolisian dan kecocokan talenta yang dimiliki Elang. Akhirnya membuatnya direkrut untuk membantu penyelidikan. Berbagai benang putus yang ada dalam kasus ini akhirnya perlahan tersambung dan semakin menguak misteri Kematian Gagak Hitam.
Sejujurnya, ini adalah kali pertama saya membaca novel bergenre misteri. Namun, untuk karya di luar buku, bersinggungan dengan genre misteri bukanlah hal baru bagi saya. Dalam urusan selera, saya sudah menonton banyak film bertema misteri—bukan hanya satu atau dua—sehingga standar pribadi saya terhadap sebuah karya misteri pun sudah terbentuk. Dengan standar itu, alur misteri dalam novel ini terasa mudah ditebak—setidaknya berdasarkan pengalaman membaca saya kali ini. Meski begitu, karena ini adalah novel misteri pertama yang saya baca, saya rasa kesannya akan tetap membekas di ingatan.
5. Wit Tanjung Ngiringan Omah (Karya: Bu Ageng Cicit)
Cerito cerkak begitulah sebutan cerpen dalam bahasa Jawa. Buku cerito cerkak ini ditulis oleh Bu Ageng Cicit seorang penulis kelahiran Wonosari. Sebuah karya yang sepenuhnya ditulis menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil. Di dalamnya termuat tiga cerpen.
Cerpen pembuka bertajuk Wit Tanjung Ngiringan Omah. Berlatar pada tahun 70-an dimana pembantaian PKI dilakukan. Sisi yang diangkat dalam cerpen ini bukanlah dari sudut pandang partisipan murni PKI, melainkan dari kacamata masyarakat biasa yang dituduh berafiliasi dengan PKI. Bagaimana asal tangkap tanpa bukti tergambarkan secara jelas di dalamnya. Lalu dengan dibumbui kisah asmara serta perjuangan hidup melalui masa sulit penangkapan ditulis dengan halus, membuat pembaca–termasuk saya pribadi–serasa hanyut mengikuti setiap alurnya.
Lalu cerpen kedua berlatar pada masa kerajaan Singosari, walaupun kisah keris Empu Gandring dan Ken Arok bukan hal baru bagi saya. Akan tetapi penulisannya menggunakan bahasa Jawa seakan memberikan daya tawar baru untuk kembali dibaca. Cerpen terakhir membawa latar Kerajaan Mataram, menutup buku ini dengan napas sejarah yang kental.
Penulisan cerpen dalam bahasa Jawa membuat pesan yang ingin disampaikan serasa lebih dekat dengan saya. Hingga sepanjang cerita serasa dinasehati oleh orang tua dengan bahasa Jawa Krama Inggil. Sejujurnya pula dalam membaca buku ini perlu fokus yang ekstra. Karena kerap saya temui Krama Inggil yang asing. Namun, hal tersebut memberikan saya pengalaman baru serta tentunya ilmu baru dalam pembendaharaan kosa kata Jawa.
MNHB
Magetan, 10 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar