Langsung ke konten utama

Mari Meluruskan Pemahaman Umum Tentang Merokok

 

Photo by Daniele Fotia on Unsplash


Persinggungan dengan rokok
Rokok sepertinya sudah menjadi hal lumrah yang bisa ditemui hampir pada setiap toko dan warung. Pun, pemakainya jangan diragukan lagi jumlahnya. Dari kalangan bawah hingga atas banyak yang jadi perokok.

Saya sendiri bukanlah perokok, tapi dahulu tatkala merantau pernah menjadi perokok yang tak terlalu lama sih. Hanya 2 bulan kurang, itupun selalu beli rokok eceran. Dan akhirnya saya memutuskan berhenti karena tak menemukan apa kenikmatannya. Selain setiap hisapannya bikin kepala saya pusing, napas engap, dan mulut bau tembakau.

Terlepas dari pendapat bahwa merokok ataupun tidak itu adalah hak pribadi masing-masing. Tapi tolonglah untuk para perokok, hargai keputusan yang gak merokok. Saya bisa bilang seperti ini sebab banyak ungkapan yang sering saya terima dari perokok yang masih aktif. Dan itu saya temui tidak sekali, tapi beberapa kali.

Bukan laki-laki namanya kalau gak ngerokok
Ini ungkapan yang sering saya terima ketika bersinggungan dengan perokok. Di mana seakan ketika dirinya menjadi perokok adalah tanda bahwa dirinya adalah laki-laki sejati. Dan yang bukan perokok bukan laki-laki. Come on.

Saya tahu kadang ungkapan “laki-laki kok gak ngerokok” sering dijadikan guyonan saja. Tapi saya khawatir hal tersebut malah lama-kelamaan kalau dinormalisasi akan tertanam dalam standar kehidupan sosial sebagai standar wajib. Toh dengan tidak merokok pun seorang tetap bisa jadi laki-laki sejati.

Ngopi tapi gak ngerokok?

Photo by hasby ash on Unsplash


Tatkala sedang mengunjungi warkop sebenarnya minuman yang lebih sering saya pesan adalah es jeruk dibandingkan kopi. Tapi, kadang kala ketika ingin, saya akan memesan kopi.

Nah, beberapa kali saat saya kedapatan memesan kopi, lalu menyeruputnya dan gak merokok, seketika ada yang nyeletuk “Ngopi tapi gak ngerokok? Mana enak mas.” Hufft, aturan mana yang bilang kalau ngopi harus ngerokok? Selama saya hidup tak saya jumpai aturan tersebut. Toh menurut saya ngopi tanpa merokok tetap nikmat. Cita rasa kopinya bisa otentik gak kecampur dengan rasa rokok.

Lagi pula, jika ngopi tanpa rokok dianggap kurang afdal, lantas bagaimana nasib mereka yang ngopi sambil ngemil pisang goreng atau roti bakar? Apakah mereka juga dianggap kurang sah menikmati kopi? Kan enggak juga. Nikmat itu soal selera, bukan soal aturan yang disepakati orang banyak.

Rokok jadi standar pergaulan
“Jadi perokok tuh gampang dapat temen, ketemu orang gak dikenal tawari rokok atau minjem korek, otomatis obrolan kebuka dan akhirnya nambah temen lagi.” Ini salah satu contoh ungkapan yang seakan kalau pingin cepet dapat teman harus jadi perokok. Eitss, tapi banyak juga saya jumpai pertemanan rusak karena rokok dan korek.

Kalaupun hanya sekadar ingin membuka obrolan entah ke orang asing atau saat suasana canggung. Masih banyak kok alternatif lain yang bisa dipakai untuk mengatasi hal tersebut. Selama pertanyaan normal seputar nanya asal dari mana, mau kemana, dan basa-basi lainnya masih relevan, kenapa harus bingung soal pergaulan?

Justru, pertemanan yang dibangun tanpa perlu "modal" sebatang rokok sering kali lebih tulus. Nggak ada embel-embel barter korek atau gantian ngebul. Murni obrolan, murni saling sapa. Sesederhana itu.

Hargai pilihan masing-masing
Terakhir, terlepas dari semua hal di atas lagi-lagi saya paham, bahwa menjadi perokok ataupun tidak merupakan keputusan pribadi masing-masing. Oleh sebab itu hargai keputusan tersebut dengan tidak memaksakan orang lain untuk sama dengan pilihan kita. Termasuk pilihan seseorang untuk tidak merokok.

Toh, yang penting kan saling menghormati. Kamu ngerokok ya silakan, saya enggak ngerokok ya tolong hargai juga. Bukan begitu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Jejak Bacaan Awal Tahun 2025 (1)

     Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum: 1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)      " Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.      Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.       Tahun lalu...