Langsung ke konten utama

Mengulas bacaan tahun 2023 (Part2)

     (PART 2) 

     Buku “Melawat Ingatan” sebuah novela karya Ruly R.

Foto Novela "Melawat Ingatan"




















    

    Sebuah buku yang cocok untuk dibaca dikala pikiran perlu rehat dari hiruk pikuk pekerjaan atau perkuliahan. Buku yang masuk dalam kategori novela ini merupakan salah satu karya dari founder Dinamit Kopi X penerbit Rusamenjana di Ponorogo yaitu Ruly R.  Sejujurnya pada awalnya mengenai perbedaan antara sebuah novel dan novela tak terlalu saya mengerti. Pikir saya, mungkin salah dalam penulisan atau Typo.  Ternyata setelah membuka KBBI saya menemukan perbedaannya. 

    Jika novel secara garis besar menceritakan kehidupan seseorang atau tokoh dan cenderung lebih kompleks permasalahannya. Entah satu konflik atau lebih di dalamnya. Beerbeda dengan novela. Karya satu ini sama-sama sebuah prosa yang panjangnya lebih dari cerpen namun tak sepanjang novel. Pun juga dalam novela lebih berkutat pada satu peristiwa, satu keadaan, atau satu titik tikaian.  Selanjutnya membahas sedikit garis besar buku ini. Ada beberapa tokoh dalam satu peristiwa disini dengan satu tokoh kunci yaitu pak Daya. Diceritakan ada 5 anak muda yaitu Guntur, Andhita, Pawana, Agni dan Adam. Keenam tokoh ini memiliki pandangan yag berbeda-beda. Dan pak Daya disini berperan sebagai ayah, sekaligus tempat bertukar cerita ke 5 pemuda/i ini. Dan konflik pun terjadi ketika sosok Pak Daya ini meninggal.



Buku “Manusia Indonesia” karya Moctar Lubis

Foto buku "Manusia Indonesia"


    Bertajuk sebagai sebuah pertanggung jawaban seorang Mochtar Lubis, jurnalis sekaligus sastrawan ini menarik dan sempat menjadi karya yang menghebohkan pada masanya. Buku ini merupakan ungkapan pemikiran Mochtar Lubis dalam memandang manusia Indonesia. Banyak sekali sifat manusia didunia ini. Namun, dari banyaknya sifat tersebut ia merangkum dan membuat prototiipe sifat manusia indonesia dalam beberapa sifat, diantaranya seperti hipokrit atau munafik, berjiwa feodal, dan beberapa sifat lain.

    Pemaparan mochtar menimbulkan pro kontra. Dalam buku ini pula dicantumkan surat menyurat, balas-membalas antara Mochtar Lubis dengan beberapa tokoh ternama. Seperti ahli Psikologi dari UI, Margono Djojohadikusumo, dll. Ada satu ungkapan dalam buku ini yang saya suka. Seperti ini kiranya “apakah orang dari suku pedalaman yang berpakaian sangat minim dan hampir telanjang itu tidak modern? Seperti salah satu  suku di  Papua. Para lelakinya  hanya memakai Koteka. Sedangkan bangsa barat yang dijadikan patokan masyarakat modern juga memakai pakaian bikini, hingga bahkan hampir telanjang?” Bahkan awal tahun ini saja di media sosial geger dengan salah satu mantan atlet WWE sekaligus aktor Hollywood John Cena yang tampil di ajang penghargaan Oscar. Ia tampil 99 persen telanjang saat membacakan nominasi. Buku ini sendiri merupakan pidato kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuqi yang kemudian di bukukan

Buku “Sayap-sayap Patah” karya Kahlil Gibran.

Foto novel "Sayap-Sayap Patah"











    Buku karya seorang sastrawan Lebanon yaitu Kahlil Gibran.  Novel bergenre romance ini merupakan salah satu karya terbaik dari seorang Kahlil Gibran. Mengangkat kisah cinta sepasang pemuda  dan pemudi. Buku ini hadir dengan gaya bahasa amat romantis. Bak kisah Romeo dan Juliet. Sebagaimana yang saya sampaikan di awal bahwa ini novel cinta. Namun, kisah cinta di dalamnya tak berakhir bahagia. Sang tokoh harus merelakan cintanya dengan sang gadis yang terpaksa dinikahkan dengan kemenakan seorang Uskup tenama. Dengan memanfaatkan keterpandangannnya sang Uskup berlaku semena-mena. Hingga dengan kuasanya Salma dipaksa agar mau menikah dengan kemenakannya. Sehingga mematahkan hati sang tokoh “Aku” lantaran tak bisa bersatu dengan Salma




Buku “Magetan: Bumi Kelahiran” karya Iman Budhi Santosa

Foto buku "Magetan; Kota Kelahiran"











    Iman Budhi Santosa atau IBS, pelafalan nama tokoh sastra besar yang sering saya jumpai di medsos akhir-akhir ini. Guru dari cak nun ini tenyata kelahiran Magetan. Nah, ingatan-ingatan dan kenanganya saat di Magetan ia tuangkan di dalam buku ini “Magetan : Bumi Kelahiran.” Saat membaca buku ini saya seakan dibawa kembali ke tahun-tahun ketika IBS kecil. Dalam buku ini pula sosok seorang kakek dari IBS menjadi kunci dalam karir kepenulisannya. Sang kakek selalu mengajarkan bagaimana agar selalu menyikapi segala sesuatu dengan akal dan pikiran bukan dengan ketakutan dan takhayul, sebagaimana IBS tuliskan dalam salah satu kisah di dalam buku ini yang berjudul “dengkur uwi dan bunga pisang.” Juga mengenai kebiasaan menuliskan apa saja yang dilihat dan dialami oleh IBS seperti dalam bab “mencatat...mencatat.... dan mencatat.” Format isi buku ini adalah kumpulan feature-feature berdasarkan pengalaman IBS.

    Buku ini  cocok sekali untuk pengantar bagaimana mengenal sosok IBS. Pun juga secara implisit bisa kita ambil pelajaran bagaimana memulai menulis. Tak harus menulis sesuatu yang jauh dan besar, namun “tulislah yang dekat-dekat sekitar kita dahulu.”

 Buku “Serat Cantigi” karya E. Rokajat Asura.

Foto novel "Serat Cantigi"



















    Buku terbitan penerbit "BukuMojok" ini mengangkat kisah seorang anak yang dihantui akan rasa penasaran mengenai masa lalu ayahnya yang simpang siur dikatakan pernah terlibat dalam peristiwa DI/TII atau Darul Islam (Tentara Islam Indonesia). Dalam perjalanannya menelusuri masa lalu ayahnya, berbagai keraguan muncul dalam diri Ajat, sang tokoh utama. Di novel ini pula terselip berbagai fenomena sosial salah satunya ketakutan akan sebuah ideologi terlarang yang membahayakan. Dari buku ini saya mendapatkan sebuah perspektif. Yaitu, suatu ideologi akan sulit dilepas dari diri seseorang dan dalam kacamata masyarakat walaupun orang tersebut sudah tidak terlibat, maka tetap akan dipandang sebelah mata dan selalu di cap negatif





Buku “ Senja Di Jakarta”` karya Mochtar Lubis

Foto novel "Senja di Jakarta"



















 

    Mengambil latar di kota Jakarta. Novel satu ini dapat dengan apik memotret  kehidupan sosial dari masyarakat kelas bawah hingga atas, dari supir truk hingga pejabat. Lagi-lagi karya Mochtar Lubis tak pernah gagal dalam menampilkan fenomena sosial. Dengan tokoh utama bernama Suryono. Setelah membaca buku novel ini saya mendapat pandangan serta gambaran bagaimana suatu mekanisme yang dilakukan kalangan elite guna memperlancar aksi korupsi mereka. Mulai dari memenangkan posisi tertentu hingga menyogok media-media demi sebuah pencitraan. Dari buku ini pula kelakuan elite sangat berdampak pada kehidupan masyarakat kelas bawah.  Mungkin inilah kata-kata yang dapat mewakilkan isi dalam novel ini “yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin.












By; MNHB

Magetan, 4 april 2024

Komentar

Posting Komentar