- Part 1
Buku merupakan hal yang tak akan lekang oleh waktu. Di dalam buku terdapat hal kekal yaitu tulisan. Tulisan terdiri dari kata dan aksara, yang merupakan bukti perkembangan peradaban yang paling tua yang diwariskan oleh para nenek moyang. Kehebatan dari sebuah buku terbukti membuat akal para pembaca bereaksi hingga menimbulkan proses berlogika serta berpikir dengan wujud hasil pemahaman dan penafsiran atas isi buku yang dibaca. Pernah salah satu orang mengutarakan pendapatnya bahwa kehebatan dari sebuah buku adalah saat benda mati itu (buku) ditulis maka sang penulis melakukan proses berpikir dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Lalu buku karya penulis tersebut dibaca oleh pembaca dan lagi-lagi terjadi proses berpikir guna memahami isi dari tulisan tersebut hingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda oleh para pembaca. Hebatnya lagi buku merupakan alat untuk berkomunikasi lintas waktu secara tidak langsung. Penulis yang sudah mati akan tetap abadi dalam bentuk pemikiran dan karyanya sehingga bisa dibaca oleh orang di masa mendatang.
Buku sebagai objek, bergandegan erat dengan pembaca sebagai subjek. Pembaca yang baik adalah mereka yang membaca dengan seksama dan berusaha melakukan proses berpikir guna menafsirkan apa yang ia baca. Menurut hemat saya ada beberapa tingkatan atau jenis orang berdasarkan cara mereka memandang buku . Pertama, manusia yang tak mau membeli buku dan tak mau membaca buku. Kedua, manusia yang mau membeli buku namun tak mau membaca buku. Ketiga, manusia yang membeli buku dan membacanya namun tak mau mendiskusikan hasil bacaanya dengan orang lain. Kempat, manusia yang membeli, membaca, dan mendiskusikan hasil bacaannya lalu mau menulis apa hasil diskusinya. Dalam pandangan saya semakin banyak membaca, semakin sering diskusi, semakin sering menulis merupakan bukti bahwa manusia tersebut hidup.
Cukup dua paragraf saja sebagai pembuka serta bagaimana pandangan saya tenta buku. Lanjut ke sesi penyegaran ingatan saya mengenai pemahaman saya tentang beberapa buku yang telah saya baca di tahun 2023 lalu
Buku “Ibnu Khaldun sang mahaguru.” karya Bensalem Himmish.
![]() |
| (foto novel "Ibnu Khaldun") |
Buku ini merupakan karya Bensalem Himmish yang diangkat dari kisah ilmuan muslim yaitu Ibnu Khaldun. Walaupun buku ini merupakan sebuah novel. Bagi saya ini menjadi semacam jendela untuk dapat mengenal bagaimana ilmuan islam dalam berpikir. Apalagi Ibnu Khaldun merupakan bapak sosiologi muslim. Dalam buku ini bisa tergambar bagaimana kehidupan pada zaman tersebut. Dimana masih bersistem kerajaan-kerajaan timur tengah. Dengan latar pergolakan kerajaan-kerajaan, seorang Ibnu Khaldun menjelma sebagai seorang penasihat dan ahli hukum bagi kerajaan-kerajaan yang ia singgahi, hingga bagaimana ia menjalani naik turun perjalanan hidupnya. Mulai dari saat ia menjadi orang kepercayaan raja hingga menjadi tahanan. Jika ditanya pelajaran moral apa yang didapat setelah membaca buku ini, maka jawaban saya adalah `hidup seperti roda, kadang kita berada diatas dan kadang dibawah.’
Buku “Adam Hawa” karya Muhiddin M. Dahlan.
![]() |
| (foto novel "Adam Hawa") |
Buku ini mengambil latar pada awal pencitptaan manusia dari perspektif agama. Walaupun banyak yang diubah berdasarkan imajinasi sang penulis. Sebelum saya membaca buku ini saya diberi pengantar oleh seorang teman saya. Ia mengutip kata-kata sang penulis “iman yang baik adalah iman yang bila diguncang tetap kokoh dan tak goyah keimanananya” ujarnya kala itu. Memang bagi orang yang memiliki pemikiran menutup diri dan tak welcome dengan sesuatu yang berbeda lebih-lebih mengenai keyakinan.
Buku ini bisa jadi masuk dalam list “haram” untuk dibaca. Pasalnya buku `Adam Hawa` ini banyak mensifatkan tuhan seperti makhluk. Sehingga jelas saja akan menimbulkan pertentangan dengan agama-agama yang mengkultuskan bahwa tuhan tak sama dengan makhluknya. Mungkin cukup tentang bagaimana seharusnya paradigma yang dipakai sebelum membaca buku ini. Lanjut saya akan menjelaskan garis besar isi buku ini. Jika dalam islam manusia pertama adalah Adam dan manusia kedua adalah Hawa, maka dalam buku ini menghadirkan perspektif berbeda mengenai wanita pertama sebelum Hawa. Untuk mengetahui isinya sila baca sendiri untuk lebih lanjut.
Buku “Max Haveelar” karya Multatuli (Douwes Dekker/ Sjalman).
| (foto novel "Max Havelaar") |
![]() |
| (foto novel "Anak haram Ibu Pertiwi") |
by: M.N.H.B.
Magetan (Senin, 25 maret 2024)
Lanjut Part 2 ....




Komentar
Posting Komentar