Langsung ke konten utama

Mengulas kembali bacaan yang dibaca pada tahun 2023 lalu (PART 1)

- Part 1

    Buku merupakan hal yang tak akan lekang oleh waktu. Di dalam buku terdapat hal kekal yaitu tulisan. Tulisan terdiri dari kata dan aksara, yang merupakan bukti perkembangan peradaban yang paling tua yang diwariskan oleh para nenek moyang. Kehebatan dari sebuah buku terbukti membuat akal para pembaca bereaksi hingga menimbulkan proses berlogika serta berpikir dengan wujud hasil pemahaman dan penafsiran atas isi buku yang dibaca. Pernah salah satu orang mengutarakan pendapatnya bahwa kehebatan dari sebuah buku adalah saat benda mati itu (buku) ditulis maka sang penulis melakukan proses berpikir dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Lalu buku karya penulis tersebut dibaca oleh pembaca dan lagi-lagi terjadi proses berpikir guna memahami isi dari tulisan tersebut hingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda oleh para pembaca. Hebatnya lagi buku merupakan alat untuk berkomunikasi lintas waktu secara tidak langsung. Penulis yang sudah mati akan tetap abadi dalam bentuk pemikiran dan karyanya sehingga bisa dibaca oleh orang di masa mendatang.

    Buku sebagai objek, bergandegan erat dengan pembaca sebagai subjek. Pembaca yang baik adalah mereka yang membaca dengan seksama dan berusaha melakukan proses berpikir guna menafsirkan apa yang ia baca. Menurut hemat saya ada beberapa tingkatan atau jenis orang berdasarkan cara mereka memandang buku . Pertama, manusia yang tak mau membeli buku dan tak mau membaca buku. Kedua, manusia yang mau membeli buku namun tak mau membaca buku. Ketiga,  manusia yang membeli buku dan membacanya namun tak mau mendiskusikan hasil bacaanya dengan orang lain. Kempat,  manusia yang membeli, membaca, dan mendiskusikan hasil bacaannya lalu mau menulis apa hasil diskusinya. Dalam pandangan saya semakin banyak membaca, semakin sering diskusi, semakin sering menulis merupakan bukti bahwa manusia tersebut hidup.

    Cukup dua paragraf saja  sebagai pembuka serta bagaimana pandangan saya tenta buku. Lanjut ke sesi penyegaran ingatan saya mengenai pemahaman saya tentang beberapa buku yang telah saya baca di tahun 2023 lalu

Buku “Ibnu Khaldun sang mahaguru.” karya Bensalem Himmish.

(foto novel "Ibnu Khaldun")

    Buku ini merupakan karya Bensalem Himmish yang diangkat dari kisah ilmuan muslim yaitu Ibnu Khaldun. Walaupun buku ini merupakan sebuah novel. Bagi saya ini menjadi semacam  jendela untuk dapat mengenal bagaimana ilmuan islam dalam berpikir. Apalagi Ibnu Khaldun merupakan bapak sosiologi muslim. Dalam buku ini bisa tergambar bagaimana kehidupan pada zaman tersebut. Dimana masih bersistem kerajaan-kerajaan timur tengah. Dengan latar pergolakan kerajaan-kerajaan, seorang Ibnu Khaldun menjelma sebagai seorang penasihat dan ahli hukum bagi kerajaan-kerajaan yang ia singgahi, hingga bagaimana ia menjalani naik turun perjalanan hidupnya. Mulai dari saat ia menjadi orang kepercayaan raja hingga menjadi tahanan. Jika ditanya pelajaran moral apa yang didapat setelah membaca buku ini, maka jawaban saya adalah `hidup seperti roda, kadang kita berada diatas dan kadang dibawah.’

Buku “Adam Hawa” karya Muhiddin M. Dahlan.

(foto novel "Adam Hawa")

    Buku ini mengambil latar pada awal pencitptaan manusia dari perspektif agama. Walaupun banyak yang diubah berdasarkan imajinasi sang penulis. Sebelum saya membaca buku ini saya diberi pengantar oleh seorang teman saya. Ia mengutip kata-kata sang penulis “iman yang baik adalah iman yang bila diguncang tetap kokoh dan tak goyah keimanananya” ujarnya kala itu. Memang bagi orang yang memiliki pemikiran menutup diri dan tak welcome dengan sesuatu yang berbeda lebih-lebih mengenai keyakinan. 

    Buku ini bisa jadi masuk dalam list “haram” untuk dibaca. Pasalnya buku `Adam Hawa` ini banyak mensifatkan tuhan seperti makhluk. Sehingga jelas saja akan menimbulkan pertentangan dengan agama-agama yang mengkultuskan bahwa tuhan tak sama dengan makhluknya. Mungkin cukup tentang  bagaimana seharusnya paradigma yang dipakai sebelum membaca buku ini. Lanjut saya akan menjelaskan garis besar isi buku ini. Jika dalam islam manusia pertama adalah Adam dan manusia kedua adalah Hawa, maka dalam buku ini menghadirkan perspektif berbeda mengenai wanita pertama sebelum Hawa. Untuk mengetahui isinya sila  baca sendiri untuk lebih lanjut.

Buku “Max Haveelar” karya Multatuli (Douwes Dekker/ Sjalman).

(foto novel "Max Havelaar")

    Bagi setiap individu yang pernah diberi pelajaran Ilmu pengetahuan sosial di tingkat dasar. Pada bab yang menerangkan sejarah bagaimana bangsa indonesia ini mencapai kemerdekaanya maka pastinya sudah tak asing lagi dengan salah satu tokoh pelopor nasionalisme. Pemotret keadaan realita perilaku bangsa belanda di tanah Hindia belanda (sebelum nama Indonesia) yang tidak sesuai dengan pemberitaan di negeri mereka sendiri. Tokoh tersebut adalah Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli. Ia menuliskan realita tersebut dalam buku Max Haveelar-nya.  
    Sedikit menjelaskan garis besar buku ini. Saat mulai membuka halaman-halaman awal pembaca akan disuguhkan dengan kisah petemuan Sjalman (salah satu julukan Multatuli) dengan salah seorang pedagang kopi asal belanda. Kedua orang ini memiliki pandangan yang berlawanan. Sjalman dengan imajinasinya dan tuan saudagar kopi dengan kejujuran ungkapan apa adanya dan sangat benci kata-kata yang dibuat-buat (mendayu-dayu). Lalu pembaca akan di suguhkan dengan tulisan empiris dari Multatuli saat menjabat sebagai residen. Bagaimana ia memotret kebobrokan sistem pemerintahan belanda  yang membuat rakyat Indonesia sengsara,  itulah yang membuat karya ini meledak dan membuka pandangan dunia mengecam penjajahan dan kolonialismenya.

Buku “Anak Haram Ibu Pertiwi”  karya S.S Van Beuteles.

(foto novel "Anak haram Ibu Pertiwi")

    Sebuah novel terbitan tahun 2016 yang memiliki tema sosial perlawanan. Sangat apik dalam memotret bagaimana penindasan penguasa yang bepegang pada kepentingan tertentu. Dimana ada penindasan tentu di tempat tersebut ada perlawanan. Negara yang seharusnya mengayomi seluruh rakyatnya malah menihilkan perhatian bagi rakyatnya. Mengambil latar konflik tentang  diskriminasi pemerintah terhadap kampung Sidoluhur.  Dikarenakan masyarakat menempati serta membangun pemukiman di tanah yang diklaim milik negara. Konsep konflik semacam ini sangat cocok dengan realita kasus-kasus yang terjadi dalam satu dekade ini di Indonesia seperti halnya kasus Wadas, Pakel, Rempang, dan masih banyak lagi. Buku ini juga memotret bagaimana feodalisme masih kental di daerah kampung.  Pun juga kasus yang menimpa salah satu teman perempuan dari tiga sekawan (Adilun, Jahidin dan Marka`i)  yaitu Onah di kampung Sidoluhur dapat mengggambarkan mirisnya  nasib warganya. 

Buku "Inilah Resensi" karya Muhiddin M. Dahlan.
(Foto buku : Inilah Resensi)

    Karya dari penulis yang sama, novel Adam dan Hawa, yaitu Muhiddin M. Dahlan atau yang akrab dipanggil Gus Muh. Memberikan saya berbagai resep dalam mengolah masakan bernama buku. Bagaimana tidak dalam buku ini saya menemukan berbagai teknik dalam meresensi buku. Mulai dari resensi yang normal dan umum, seperti menjabarkan garis besar alur buku dan menulis kelebihan serta kekurangan isinya; resensi yang kalau sekilas seperti sebuah kritikan dan tuduhan; hingga resensi khas para tokoh besar bangsa, yang tentunya memiliki ciri khasnya masing-masing.

    Gus Muh memberikan berbagai sudut pandang bagaimana proses resensi terhadap sebuah karya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kenamaan di Indonesia. Seperti halnya bung Karno dengan istilah meniliknya, bung Hatta dengan cara mengomentari karya sultan syahrir  hingga menyebut meresensi adalah pengikat pertemanan, H.B. Jassin, dan masih banyak lagi.  Selain merangkum cara resensi tokoh-tokoh ternama, Gus Muh juga memberikan kiat-kiat bagaimana meresensi yang baik. buku ini sangat cocok bagi orang yang ingin belajar meresensi.








by: M.N.H.B. 

Magetan (Senin, 25 maret 2024)



Lanjut Part 2 ....

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Mari Meluruskan Pemahaman Umum Tentang Merokok

  Photo by Daniele Fotia on Unsplash Persinggungan dengan rokok Rokok sepertinya sudah menjadi hal lumrah yang bisa ditemui hampir pada setiap toko dan warung. Pun, pemakainya jangan diragukan lagi jumlahnya. Dari kalangan bawah hingga atas banyak yang jadi perokok. Saya sendiri bukanlah perokok, tapi dahulu tatkala merantau pernah menjadi perokok yang tak terlalu lama sih. Hanya 2 bulan kurang, itupun selalu beli rokok eceran. Dan akhirnya saya memutuskan berhenti karena tak menemukan apa kenikmatannya. Selain setiap hisapannya bikin kepala saya pusing, napas engap, dan mulut bau tembakau. Terlepas dari pendapat bahwa merokok ataupun tidak itu adalah hak pribadi masing-masing. Tapi tolonglah untuk para perokok, hargai keputusan yang gak merokok. Saya bisa bilang seperti ini sebab banyak ungkapan yang sering saya terima dari perokok yang masih aktif. Dan itu saya temui tidak sekali, tapi beberapa kali. Bukan laki-laki namanya kalau gak ngerokok Ini ungkapan yang sering saya ...

Jejak Bacaan Awal Tahun 2025 (1)

     Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum: 1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)      " Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.      Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.       Tahun lalu...