Pengibaran Bendera One Piece: Kalau Fiksi Saja Dicurigai, Lalu Apalagi yang Tersisa Dari Demokrasi Kita?
Pengibaran bendera bajak laut satu ini sebenarnya adalah simbol kekecewaan dari masyarakat atas kebijakan-kebijakan pemerintah belakangan dirasa menyulitkan rakyat. Tapi sebelum itu perlu kiranya kita mengetahui dulu apa sebenarnya makna dari bendera One Piece.
Jolly Roger Kru Mugiwara
Bendera hitam dengan simbol tengkorak yang memakai topi jerami merupakan lambang identitas dari kelompok bajak laut yang dipimpin oleh kapten bernama Monkey D Luffy, tokoh utama dalam serial ini. Dalam anime One Piece sebenarnya banyak macam macam lambang Jolly Roger. Masing masingnya memiliki simbol yang berbeda tergantung ciri khas bajak laut tersebut. Namun, untuk elemen utama yang hampir pasti ada adalah lambang tengkorak dengan dua tulang menyilang.
Kembali ke Jolly Roger Mugiwara, Luffy yang merupakan pemakan buah iblis Hito-Hito no mi model Nika menjadikannya simbol kebebasan. Karena Nika sendiri dalam mitologi dunia One Piece adalah wariror of liberation atau ksatria pembebasan. Kehadiran dari Nika sendiri menjadi sebuah harapan bagi para budak untuk senantiasa mengharapkan kebebasan dari penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan Tenryubito. Representasi Nilai yang dibawa dari sosok Nika ini adalah kesetaraan dan bebas dari penindasan. Dimana semua makhluk bisa makan sampai kenyang dan tertawa lepas tanpa beban.
Jolly Roger Mugiwara menjadi identik dengan pembebasan dari penindasan juga disebabkan oleh pola yang sering dilakukan oleh kru bajak laut satu ini. Kelompok Mugiwara dalam perjalanannya mengarungi lautan sering singgah di pulau. Tak jarang hampir setiap pulau yang disinggahi ini pasti terdapat penindasan yang dilakukan penguasa terhadap rakyat atau masyarakatnya. Disinilah peran kru Mugiwara. Mereka selalu menjadi ujung tombak untuk membantu rakyat melawan penguasa penindas tersebut. Nilai-nilai simbolik inilah yang kemudian menjadikan lambang One Piece menjadi relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
Pengibaran Bendera One Piece Bukan Hal Baru
Fenomena aksi pengibaran bendera Mugiwara ini bukan menjadi hal baru sebenarnya. Bila membaca pola yang ada aksi kali ini hanya salah satu dari simbol yang bisa menyatukan pendapat dan menyuarakan keresahan masyarakat. Sebut saja beberapa waktu lalu simbol keresahan masyarakat dituangkan dalam bentuk gambar garuda dalam bingkai latar belakang berwarna biru berslogan Indonesia Darurat. Lalu tak selang beberapa lama muncul lagi slogan Indonesia Gelap. Barulah yang terbaru adalah pengibaran bendera Mugiwara dalam serial anime One Piece.
Adanya bentuk aksi yang beragam ini seharusnya menjadikan pemerintah sadar kalau rakyat sedang tidak baik baik saja. Ibarat pemerintah itu adalah kepala dan rakyat adalah anggota tubuhnya. Lalu aksi aksi rakyat yang santer dilakukan ini adalah penggambaran dari anggota tubuh yang merasa kesakitan. Seharusnya kepala bersyukur bahwasanya anggota tubuh sedang mengirimkan sinyal ke otak kalau kepala harus segera mengobati bagian tubuh yang sedang kesakitan. Atau setidaknya kepala akan berusaha mencari terlebih dahulu apa yang menyebabkan anggota tubuh bisa merasakan sakit.
Pemerintah Terlalu Khawatir Tentang Hal Fiksi Sehingga Mengabaikan Hal Nyata
Ironisnya, para pejabat yang mestinya berpikiran maju justru malah lebih cepat merespon hal fiksi. Ancaman pidana terhadap pengibar bendera One piece–padahal kenyataannya pengibarannya tak lebih tinggi dari Sang Saka– bisa jadi bukti betapa lucunya pejabat negeri ini, terkesan terlalu reaktif dan impulsif terhadap simbol dan mengabaikan substansi alasan dibaliknya.
Lucunya lagi One Piece yang sebenarnya adalah hal fiksi malah menjadi perhatian utama pemerintah untuk ditindak, dan penindakannya begitu cepat. Padahal sebenarnya banyak kasus dan hal hal nyata di dalam negeri ini yang harusnya lebih diperhatikan untuk segera diselesaikan. Ambil contoh seperti Judi online yang masih merajalela, ketersediaan 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan, pajak yang kian ugal-ugalan, korupsi serta permasalahan nyata lainnya.
Terakhir dengan adanya fenomena kali ini apakah pemerintah akan sadar atau tetap acuh? Dan setelah ini juga apakah rakyat harus terus menyampaikan pendapatnya dengan meminjam hal fiksi karena tak punya wakil nyata yang benar-benar bisa dipercaya? Barangkali mungkin kita akan benar-benar berharap kru Mugiwara muncul di dunia nyata untuk membantu rakyat mendapatkan keadilan.
Magetan, 10 Agustus 2025

Komentar
Posting Komentar