Langsung ke konten utama

Antara Optimisme Hijau dan Realisme Tambang: Membaca Ulang Perdebatan Raja Ampat


Baru saja saya melihat video lengkap dari diskusi antar aktivis lingkungan  yang diwakili oleh Greenpeace dengan lawan bicaranya dari PBNU. Dimana keduanya berdiskusi atau lebih tepatnya berdebat tentang isu tambang di Raja Ampat. Sebetulnya memang agak terlambat kalau berbicara kehangatan isu ini yaitu tambang di Raja Ampat. Terlepas dari hal tersebut bagi saya menarik sekali membedah bagaimana sudut pandang kedua kubu dalam video tersebut berdebat.

(Terlepas sebenarnya alasan awal saya memutuskan menonton video penuhnya adalah ingin mengetahui bagaimana bisa seorang tokoh NU bersikap dan melontarkan kata "Wahabi Lingkungan" sehingga video klip potongannya berseliweran di beranda sosial media saya)

Dipandang Dari Kacamata Lingkungan 
Jikalau menonton secara utuh videonya pasti kita bakalan bijak menyikapi debat ini. Satu sisi bertujuan untuk mengingatkan kalau sudahi eksplorasi merusak bumi dan mari beralih ke yang lebih ramah lingkungan. Dengan cara apa? Pemerintah fokuskan ke percepatan peralihan energi terbarukan. Perubahan tersebut memang kalau dilakukan secara cepat dan langsung akan menimbulkan gonjang-ganjing atau kekagetan. Maka dari itu dari pihak Greenpeace memberi alternatif. Yaitu dengan kita kurangi emisi bukan langsung hilangkan emisi. Intinya kita perlambat kerusakan sambil menunggu persiapan untuk beralih energi itu siap.
 
Sedangkan kubu PBNU mereka berpatokan pada kemaslahatan atau kebermanfaatan sumber daya bagi masyarakat. Dalilnya adalah berapa banyak yang merasakan manfaat dari adanya energi (tambang dan anak turunnya )terutama listrik yang merupakan sumber penggerak di zaman digital ini. Tapi hanya saja pihak ini belum menemukan alasan yang sebanding dengan penyetopan total dan tiba tiba energi fosil yang dampak berantainya akan secara instan menaikkan harga energi. 

Satu sisi optimis dan memberikan metode alternatif menuju penggunaan energi yang ramah lingkungan. Walaupun belum sepenuhnya teruji dan masih diperdebatkan. Tapi setidaknya ini satu harapan yang mungkin di masa depan akan membuka harapan dan realisasi yang sungguh-sungguh berdampak serta masuk akal untuk diterapkan secara global. 
Sedangkan di kubu sisi lain masih belum bisa siap melepaskan diri dari kondisi sekarang yang kita semua tergantung pada energi tidak terbarukan. Alasannya karena belum bisa dipastikan dan sejauh penerapan uji coba di beberapa negara. Dampak yang timbul malah menghasilkan problem ekonomi lain.  
 
Di satu sisi optimis di sisi lain masih belum mendapatkan keyakinan untuk beralih.

Dari Sisi Ekonomi 
Sudut pandang ini juga menarik bila didasarkan pada diskusi di dalam video. Perihal kegiatan tambang kedua kubu ini malah kini terbalik. Bagaimana bisa saya katakan terbalik? Karena kini kubu Greenpeace pesimis sedangkan PBNU optimis. 

Jadi begini, dari hal yang disampaikan mengenai isu tambang dan pengelolaan tambang. Kubu NU memandang kalau dengan adanya pemberian izin pengelolaan tambang kepada lembaga selain BUMN dan Perusahaan besar pada umumnya (Oligarki maksudnya). Menjadikannya angin segar bagi perekonomian masyarakat. Karena dengan begitu pihak pihak yang dari dulu tak memiliki kesempatan untuk mengelola dan menikmati hasil tambang kini memiliki harapan untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Sehingga pada akhirnya pembicaraan tentang banyaknya penduduk asli yang malah termarjinalkan di tanahnya sendiri dan tak bisa menikmati hasil buminya sendiri bisa teratasi. 

Sedangkan kubu Greenpeace malah memandang hal ini akan sama saja. Bagaimana data temuan yang didapati oleh pihak Greenpeace menunjukkan bahwa banyak penduduk asli yang tak mendapat manfaat dari tanah yang ditinggalinya. Keuntungan sepenuhnya hanya berputar pada kaum oligarki. Lalu untuk mengenai optimisme tentang terbukanya pintu kemerataan akses pengelolaan tambang. Pihak Greenpeace memandang pada akhirnya kalau pengelolaan tambang ini dikelola oleh para pendatang baru—dalam hal ini dalam dunia pertambangan baik itu masyarakat lokal atau lembaga lokal— pada akhirnya dengan keterbatasan pengalaman setidaknya akan diasumsikan kalau pendatang baru ini akan meminta bantuan atau ilmu pada pemain lama. Sehingga diasumsikan pula skenario terburuknya adalah secara tidak langsung pengelolaan masih tetap ada campur tangan pemain lama. 

Pada intinya kedua belah pihak ini memiliki ide dan keyakinan masing-masing. Terlepas dari hal tersebut saya pribadi lebih condong pada semangat dari aktivis lingkungan Greenpeace. Setidaknya dengan alasan kalau pandangan visioner mengenai perubahan iklim yang benar benar sudah terasa dampaknya, keterbatasan energi tak terbarukan, hasil tambang yang nantinya akan habis yang akan hanya menyisakan kerusakan alam. Dimana waktu pemulihan tak sebanding dengan sekelumit hal yang didapat. Hal ini membuat saya berkeyakinan  setidaknya kalau tidak sejak sekarang kita memulai perubahan dan peralihan energi lalu kapan lagi? 

Lalu ketika usai melihat video tersebut saya jadi teringat satu prinsip yang tercantum dalam buku yang pernah saya baca yaitu prinsip resiprositas. Menurut prinsip resiprositas seharusnya kita hanya boleh menggunakan sumber daya tak terbarukan sebanyak yang bisa kita kompensasikan untuk generasi selanjutnya. Kebijaksanaan dalam mengelola dan mengeruk perut bumi juga seharusnya diimbangi dengan kesadaran perbaikan alam yang tepat. 

Terakhir debat kali ini adalah debat paling epic yang pernah saya tonton (bahkan lebih baik dari debat presiden). Dari segi kecerdasan emosi dan intelektual serta kefasihan tata bicara keduanya sangat baik. Betul-betul cerminan debat yang ideal dalam imajinasi saya. 

Oh iya lalu bagaimana pendapat kalian tentang debat ini maupun tentang isu di atas?




Magetan, 2 Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bacaan Akhir Tahun 2025 (2)

 Lanjutan.... 6. Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek  (Karya: Mochtar Lubis)     Sengaja memang saya targetkan membaca karya Mochtar Lubis lainnnya seusai menyelesaikan novel Harimau! Harimau!. Karena rasanya saya semakin kecanduan dengan karya-karyanya. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan kini saya libas. Buku yang memuat 19 cerpen ini berhasil membuat saya tiba-tiba jadi pelancong, berkelana ke pelbagai negara. Mulai dari Korea lewat cerpen berjudul Kebun Pohon Kastanye, atau ke Jepang dengan cerpen Perempuan, hingga ke New York bersama Angin Musim Gugur.      Selain dibawa melancong lintas negara, lintas zaman juga saya alami ketika membaca buku ini. Dengan hampir latar suasana setiap cerpennya pasca  kemerdekaan. Berbagai potret kondisi yang dibuat sebagai latar, memberi saya wawasan mengenai bagaimana gambaran suasana kala itu (baca: pasca kemerdekaan).      Dari beberapa cerpen yang termuat, ada yang betul-betul b...

Mengulas bacaan tahun 2023 (Part2)

     (PART 2)        Buku “Melawat Ingatan” sebuah novela karya Ruly R . Foto Novela "Melawat Ingatan"           Sebuah buku yang cocok untuk dibaca dikala pikiran perlu rehat dari hiruk pikuk pekerjaan atau perkuliahan. Buku yang masuk dalam kategori novela ini merupakan salah satu karya dari founder Dinamit Kopi X penerbit Rusamenjana di Ponorogo yaitu Ruly R.  Sejujurnya pada awalnya mengenai perbedaan antara sebuah novel dan novela tak terlalu saya mengerti. Pikir saya, mungkin salah dalam penulisan atau Typo.  Ternyata setelah membuka KBBI saya menemukan perbedaannya.       Jika novel secara garis besar menceritakan kehidupan seseorang atau tokoh dan cenderung lebih kompleks permasalahannya. Entah satu konflik atau lebih di dalamnya. Beerbeda dengan novela. Karya satu ini sama-sama sebuah prosa yang panjangnya lebih dari cerpen namun tak sepanjang novel. Pun juga dalam novela lebih berkut...

Mengulas kembali bacaan yang dibaca pada tahun 2023 lalu (PART 1)

- Part 1      Buku merupakan hal yang tak akan lekang oleh waktu. Di dalam buku terdapat hal kekal yaitu tulisan. Tulisan terdiri dari kata dan aksara, yang merupakan bukti perkembangan peradaban yang paling tua yang diwariskan oleh para nenek moyang. Kehebatan dari sebuah buku terbukti membuat akal para pembaca bereaksi hingga menimbulkan proses berlogika serta berpikir dengan wujud hasil pemahaman dan penafsiran atas isi buku yang dibaca. Pernah salah satu orang mengutarakan pendapatnya bahwa kehebatan dari sebuah buku adalah saat benda mati itu (buku) ditulis maka sang penulis melakukan proses berpikir dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Lalu buku karya penulis tersebut dibaca oleh pembaca dan lagi-lagi terjadi proses berpikir guna memahami isi dari tulisan tersebut hingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda oleh para pembaca. Hebatnya lagi buku merupakan alat untuk berkomunikasi lintas waktu secara tidak langsung. Penulis yang sudah mati akan tetap abadi dala...