Jenis : Novel
Judul : Orang-Orang Proyek
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kota : Jakarta
Tahun : 2007
Peresensi : Muhammad Nasihathullah Haq Babis
Akhir-akhir ini semakin riuh terdengar Indonesia gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Sehingga dimana-mana hampir lumrah dan mudah dijumpai kegiatan pembangunan, entah yang berskala kecil atau berskala besar dimana biasa disebut sebagai sebuah proyek pembangunan.
Pada umumnya pembangunan pasti akan menimbulkan dampak negatif ataupun positif. Adanya manfaat dari sebuah pembangunan bisa berupa pesatnya pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Sebab meningkatnya kualitas infrastruktur seperti akses jalan guna transportasi sangat berdampak terhadap peningkatan taraf hidup suatu daerah. Namun, tak sedikit pula pembangunan yang kurang maksimal dan tak sesuai dengan perencanaan pembangunan di awal sehingga harapan untuk memperbaiki malah berubah menjadi mencelakai. Taruh saja seperti jalan yang baru diaspal,. hanya dalam beberapa bulan setelah selesai diaspal sudah berlubang dan akhirnya bisa mengakibatkan kecelakaan. Kasus-kasus semacam ini sangat kerap ditemui di Indonesia. Penyebab dari hal-hal diatas mungkin akan banyak faktor. Salah satunya ialah sebab mutu bahan yang digunakan jauh dari kata layak dan tak sesuai. Lantas bagaimana hal ini bisa terjadi?
Jawaban pertanyaan di atas, mungkin dapat kita temukan melalui karya salah satu novelis besar kelahiran Banyumas 1948 yaitu Ahmad Tohari. Dengan ciri khas karya yang sarat akan kritik sosial seperti trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Melalui salah satu karya lainnya yaitu sebuah novel yang bertajuk Orang-Orang Proyek berusaha menyampaikan kritik atas fenomena penyelewengan dalam dunia pembangunan.
Novel ini menjadi rekomendasi bagi para pembaca yang suka novel berbasis realita sosial. Atau novel yang berlatarkan di masa-masa orde baru yang terkenal akan berbagai polemik hegemoni kekuasaannya. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 2002 ini menggambarkan sisi lain dari sebuah proyek pembangunan. Sebuah penggambaran bagaimana ‘proyek’ pembangunan yang ditujukan bagi rakyat dan dibangun dengan uang rakyat malah menjadi ajang bancakan segelintir orang dan selalu ditumpangi kepentingan politik golongan.
Latar waktu yang diambil Tohari dalam novel ini adalah pada masa orde baru, tepatnya pada tahun 1991. Dimana pada saat itu di dunia nyata memang sedang dipimpin oleh presiden Soeharto, yang dikenal sebagai bapak pembangunan. Sebab yang digenjot dan ditingkatkan di era ‘rezim’ ini adalah bidang pembangunan infrastrukturnya. Agaknya pemilihan seting waktu tersebut tak bisa dilepaskan dari pengalaman yang dialami oleh Tohari itu sendiri yang sempat merasakan hidup di masa rezim Soeharto. Penulisan novel ini pula menjadi bukti kriitk yang ingin disampaikan oleh Tohari atas penyelewengan-penyelewengan dalam dunia pembangunan.
Di dalam novel ini tokoh utama bernama Kabul, seorang insinyur teknik sipil yang menjadi pemimpin pembangunan sebuah jembatan yang direncanakan akan melintang di atas sungai Cibawor. Kabul sendiri digambarkan semasa kuliah merupakan aktivis yang memegang teguh idealismenya, hal ini akhirnya terbawa hingga ke dunia kerjanya.
Selain nama Kabul si tokoh utama, pembaca saat menyelami lebih dalam, sudut per sudut, kata per kata pada novel ini. Maka akan disuguhkan oleh nama-nama khas masyarakat pedesaan. Misal Pak Tarya yang digambarkan sebagai pemancing ulung sekaligus pensiunan departemen penerangan, atau Kepala desa yang bernama Basar yang merupakan teman seperjuangan Kabul semasa kuliah dulu, serta masih banyak lagi. Yang melatarbelakangi hal ini tak lain dan tak bukan dari kehidupan Tohari pribadi yang besar dan tumbuh di lingkungan pedesaan sehingga ikut terbawa ke dalam karyanya.
Sebuah idealisme
Kabul di saat masih awal memimpin proyek pembangunan jembatan, belum merasakan adanya kejanggalan dan bisa dikatakan masih dalam kendalinya. Harapannya bisa membangun sesuai dengan mutu bahan terbaik serta sesuai takaran yang pas dan berkualitas. Tak ada pengurangan bahan. Itulah idealisme yang dipegangnya. Kabul tak mau menodai dan mencoreng gelar Insinyur Teknik Sipilnya. Namun, ketenangan tersebut tak bertahan lama.
Adapula tokoh bernama Dalkijo, atasan Kabul sekaligus kakak tingkatnya dahulu semasa kuliah. Keduanya memiliki watak yang berlawanan. Kabul dengan kejujurannya sedangkan Dalkijo dengan kerakusannya. Adanya kedua tokoh ini sepertinya oleh Tohari sengaja dimunculkan. Sebagai penggambaran realita yang ada, sebuah potret sosial. Bahwa dewasa ini orang-orang seperti Kabul masih ada di tengah-tengah lingkungan yang sudah bobrok. Sebaliknya, tokoh Dalkijo seakan membuat pembaca akan mafhum banyaknya realita oknum-oknum serupa. Karenanya saking seringnya ditemui orang seperti Dalkijo membuat praktik meghalalkan segala cara seperti dinormalisasi dan berujung merajalela. Lewat novel ini pula seakan hal tersebut ingin dikumandangkan lagi oleh Tohari. Sebagai bentuk pengingat akan selalu waspada dari sifat-sifat ke-Dalkijo-an.
Tunggangan Politik
Digambarkan di dalam novel ini bahwa terdapat sebuah partai yang mendominasi hampir segala lini yaitu partai Golongan Lestari Menang (GLM). Partai ini digambarkan memiliki lambang pohon Klepu. Para kader partai ini dituntut melakukan apa saja titah dari petinggi GLM, sehingga mau tak mau segala cara pun akan dihalalkan. Hal seperti ini sudah menjadi budaya, bahwa apa pun akan bisa dijadikan tunggangan politik kampanye selama berada di bawah kuasa partai ini. Tak terlepas proyek yang dikerjakan Kabul. Sebab, Dalkijo merupakan salah satu kadernya.
Pergolakan dan perbedaan pandangan antara kedua tokoh ini akan menjadi titik konflik yang berkepanjangan. Sebab segala tekanan dan tuntutan yang diberikan oleh Dalkijo kepada Kabul menjadi beban dan pergolakan batinnya. Karena selalu menuntut pembangunan yang tak mengedepankan keselamatan dan penggunaan jangka panjang.
Seperti halnya awal pembangunan jembatan saja. Yang menurut perkiraan Kabul bila ditinjau dari ilmunya, seharusnya dimulai saat musim kemarau. Sebab debit air yang menurun akan memudahkan pembuatan fondasi, dan juga curah hujan yang rendah serta terik panas yang lebih lama akan semakin mempercepat pengerasan fondasi cor. Namun, sebab Dalkijo yang dituntut oleh atasan GLM. Agar jembatan segera dibangun dan diresmikan guna jadi ajang kampanye GLM yaitu HUT GLM. Jadilah pembangunan dimulai di musim hujan, lebih awal dari perencanaan sebelumnya. Yang pada akhirnya malah membuat tiang fondasi jembatan ambrol diterjang air sungai yang meluap tatkala hujan deras. Ini merupakan dampak dimana perhitungan politik praktis lebih diperhatikan daripada perhitungan para pakar.
Sungguh disayangkan, tatkala Kabul memprotes keputusan atasannya tersebut. Sebab telah mengabaikan perhitungan teknik dari para perancang ahli, dan malah memilih bergantung pada perhitungan politik. Dengan memberi contoh nyata kesalahan Dalkijo, yang berakibat anggaran membengkak sebab harus kerja dua kali, membangun ulang fondasi jembatan. Jawaban yang didapatkan Kabul malah tak disangka. Menurut Dalkijo hal semacam ini tak perlu diambil pusing, sebab malah menguntungkan dirinya sebagai ‘pemborong’ anggaran akan lebih banyak yang turun. Sungguh miris.
Ikut Arus atau Menepi?
Besarnya pengaruh GLM di dalam novel ini. Menjadikan kita pembaca akan menerka-nerka bagaimanakah akhir nasib dari tokoh Kabul yang bukan kader GLM, berada di tengah lingkungan yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsipnya.
Sebagaimana di awal telah sedikit dipaparkan bahwa terdapat tokoh bernama Basar, menjabat sebagai kepala desa di tempat pembangunan proyek jembatan. Sebagai teman diskusi dan sesama aktivis Kabul dulu, Basar yang tak kepalang tanggung ingin menerapkan ide-idenya bagi kampung halamannya. Serta ingin menjaga desanya dari kendali-kendali para penguasa gila. Malah mendapati dilema.
Banyak orang yang mendukung Basar agar lekas dan mau mencalonkan diri menjadi kades. Namun, di sisi lain untuk bisa dipastikan menduduki jabatan tersebut. Basar mau tak mau harus di GLM-kan, sebuah istilah dimana seseorang menjadi kader GLM secara terpaksa. Sebab pada masa tersebut hampir kekuasaan dari pusat hingga akar rumput didominasi oleh partai GLM. Alhasil demi masyarakat desanya, Basar menurutlah di GLM-kan. Dengan keterpaksaan idealismenya harus ditekan dan mulai sedikit demi sedikit ditanggalkan, digantikan oleh budaya kolot feodalisme GLM.
Ada satu scene dimana Tohari menggambarkan bagaimana Kabul dan Basar akhirnya bertemu dengan kepentingan yang berseberangan. Dimana sebab desa yang dipimpin oleh Basar akan dijadikan tempat HUT partai GLM. Segala fasilitas dan infrastruktur di desa harus segera diperbaiki secepatnya. Bisa ditebak apa yang terjadi? Bayang-bayang mutu proyek jembatan yang akan semakin tidak diprioritaskan menjadi kian besar. Anggaran akan dipotong dan dialokasikan menuju perbaikan infrastruktur semu. Demi penguasa dan bukan demi rakyat.
Pergolakan Batin
Novel ini tak hanya menghadirkan konflik sosial, namun A.Tohari juga tidak luput menyisipkan konflik asmara di dalamnya. Seorang tokoh wanita bernama Wati menjadi titik pusat pergolakan asmara dalam novel ini, beradu peran dengan Kabul. Pembaca akan dibawa naik turun emosinya melihat bagaimana lugunya seorang pria dalam menangkap isyarat dari wanita. Di sisi lain Wati, merupakan representasi dari wanita pada umumnya yang ingin dipahami namun tak mau berterus terang. .
Pergolakan batin akan selalu tersaji dengan berbagai bentuk dan konteks dalam novel 224 halaman ini. Mulai dari beberapa dilema yang sudah tersajikan di atas, lalu pergolakan batin tokoh-tokoh lain dalam novel ini. Seperti tokoh bernama Yos, yang dihadapkan pada posisi sulit. Antara meneruskan pendidikan atau mengejar cintanya.
Lebih lanjut, novel yang di setiap bab nya hanya tertulis ‘bagian kesatu’ hingga bagian-bagian seterusnya, tak menampilkan tajuk bab seperti novel-novel lain. Hal ini memberikan gambaran jelas bahwa penulis masih membawa karakteristik penulisan karya lama. Taruh saja hal serupa akan pembaca temukan dalam novel-novel angkatan Balai Pustaka atau novel-novel lawas lainnya. Hal tersebut membuat pembaca yang ingin membaca novel ini tidak dalam sekali duduk akan sedikit kesulitan saat ingin meneruskan baca setelah jeda. Selain itu tidak detailnya bagian daftar isi, akan membuat pembaca yang ingin langsung loncat pada bagian-bagian inti cerita akan menemui sedikit kesulitan.
Tapi dibalik beberapa kekurangan-kekurangan yang bersifat teknis di atas. Novel ini masih sangat direkomendasikan untuk dibaca para pelajar, mahasiswa, dan semua kalangan yang ingin mengetahui sisi lain sebuah proyek pembangunan. Walaupun sudah lebih dari duapuluh tahun sejak novel ini terbit. Relevansinya terhadap kehidupan masa kini masih bisa ditemui, dan juga bisa menjadi pemantik akan kepekaan terhadap isu-isu sosial.
Sebagai penutup, dalam novel ini terdapat cerita humor tentang orang-orang proyek:
“Suatu saat di akhirat, penghuni neraka dan surga ingin saling kunjung. Maka penghuni kedua tempat itu sepakat membuat jembatan yang akan menghubungkan wilayah keduanya, neraka dan surga. Bagian jembatan di wilayah neraka akan dibangun oleh orang neraka pun sebaliknya. Ternyata penghuni neraka lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya daripada para penghuni surga. Dan ketika ditelisik sebabnya, ditemukan kenyataan di antara para penghuni neraka banyak mantan orang proyek.”
Keterangan:
Resensi ini telah dimuat di majalah LPM aL-Millah edisi ke 41 bertajuk Polas-Poles Proyek Prematur (Baca versi online di https://www.lpmalmillah.com/p/majalah.html?m=1 . Mungkin ada sedikit perbedaan pemilihan bahasa dan beberapa aspek lainnya antara tulisan di blog saya dengan yang dimuat di majalah. Hal tersebut karena yang sudah dimuat merupakan hasil final seleksi meja redaksi majalah. Jadi harap dimaklumi.
Komentar
Posting Komentar