Menengok Fenomena Gila Kekuasaan Lewat Karya Klasik Novel
“Animal Farm”
Judul Buku: Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:
ke-4
Tahun Terbit: 2023
Halaman: 128 Halaman
Peresensi: Nasihathullah
“Empat
kaki bagus, dua kaki jahat,” Sebuah kutipan dari novel fenomenal, karya
seorang sastrawan Inggris pada masanya, yang menjadi bentuk kritik terhadap
pemerintahan totaliter terkhusus pemerintahan Stalin, pemimpin Uni Soviet saat
itu. George Orwell namanya, namun nama tersebut bukanlah nama aslinya melainkan
nama pena dari Eric Arthur Blair penulis novel “Animal Farm” atau jika dialih
bahasakan ke bahasa Indonesia menjadi “Republik Hewan.” Novel ini pertama kali
terbit pada tahun 1945. Setahun setelah selesai ditulis pada 1944 di Inggris.
Pertama
kali mendengar nama novel ini mungkin kesan yang akan timbul dari para pembaca
ialah kisah yang berlatar di sebuah peternakan. Memang betul adanya. Akan
tetapi bila sudah mulai membaca, pembaca akan memikirkan ulang. Bahwa fenomena
yang digambarkan dalam novel ini bukanlah perkara yang simpel. Bukan konflik
biasa semacam novel lain. Pasalnya pembahasan tentang ideologi, perebutan
kekuasaan, dan propaganda akan disuguhkan kepada pembaca.
Buku
ini terdiri dari sepuluh bab. Pada bab pertama pembaca akan disuguhi seorang
tokoh pelopor, seekor babi tua bernama Wilingdon yang dijuluki Si Tua Mayor. Ia
merupakan tokoh yang pertama kali
menyuguhkan gagasan kepada para hewan yang ada di Peternakan Manor supaya
melakukan pemberontakan pada manusia.
Menurut
Mayor manusia hanya bisa mengeksploitasi para hewan. Contohnya para sapi betina
yang tak bisa memberikan susu untuk anak mereka, sebab selalu lebih dahulu
diperas dan dijual oleh Jones, pemilik Peternakan Manor. Lalu para ayam yang
tak bisa mengerami telur-telurnya hingga menetas karena selalu diambil untuk
dijual, dan masih banyak lagi. Gagasan-gagasan ini diutarakan kepada para hewan
yang ada di peternakan. Dimana peternakan itu terdapat bermacam hewan seperti
babi, kuda, ayam, anjing, keledai, sapi, merpati, dan domba.
Terdapat
tokoh sentral selain Mayor yaitu tiga babi lain bernama Napoleon, Snowball, dan
Squaler. Ada juga kuda bernama Boxer, serta keledai bernama Benjamin. Pasca
Sang mayor mati, ideologinya diperjuangkan oleh Napoleon dan Snowball.
Selanjutnya ajaran tersebut disebut sebagai ideologi hewanisme. Dimana inti
dari ideologi ini adalah semua hewan setara. Tak boleh ada hewan yang menindas
hewan lain. Semua yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh dan yang berjalan
dengan empat kaki atau bersayap adalah kawan.
Singkat
cerita pemberontakan hewan guna mengusir Tuan Jones berhasil dilakukan. Para
hewan yang kini dikomandoi oleh Napoleon dan Snowball membentuk dasar peraturan
di peternakan tersebut, disusunlah tujuh sila hewan yaitu :
1. Yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh;
2. Yang berjalan dengan empat kaki atau punya
sayap adalah kawan;
3. Hewan tidak diperbolehkan memakai pakaian;
4. Hewan tidak boleh tidur di tempat tidur;
5. Hewan tidak boleh minum alkohol;
6. Hewan tidak boleh membunuh hewan lain;
7. Semua hewan sama derajatnya.
Selama beberapa musim kehidupan yang diimpikan oleh para hewan benar-benar terwujud. Bebas dari ekploitasi para manusia. Mereka dapat mengatur segala kehidupannya secara mandiri, mendapat jatah makanan dan tempat tinggal yang lebih layak.
Seperti pada umumnya pastilah tak ada yang namanya dua pemimpin dalam satu kelompok. Dualisme akhirnya muncul, untuk memperebutkan kekuasaan atas peternakan tersebut. Napoleon dan juga Snowball saling mengusung visi dan misi saat rapat. Di hadapan para hewan, Napoleon maju dengan gagasan ‘bahan makanan akan berlimpah bila dia yang memimpin,’ sedangkan Snowball dengan gagasan ‘kerja seminggu hanya tiga hari, bisa terwujud lewat pembangunan kincir angin.`
Tak butuh waktu lama, hampir semua suara mengarah kepada Snowball. Napoleon yang kalah voting akhirnya menghalalkan segala cara, kekerasan tak dapat terelakkan. Dengan diiringi sembilan anjing, ia mengusir Snowball dari peternakan. Kini kepemimpinan diduduki oleh Napoleon.
Masa yang damai kian lama kian sirna. Kepemimpinan fasis di masa Napoleon semakin membuat para hewan menderita. Banyak sila yang diubah tanpa sepengetahuan hewan lain demi melancarkan maksud dan kehendak para babi. Ideologi hewanisme tak lagi dihiraukan. Menurut para babi derajat mereka lebih tinggi dibandingkan hewan lain. Pada akhirnya saat peternakan dipimpin oleh para hewan dibandingkan ketika dipimpin oleh para manusia, seperti tak ada bedanya, malah nampak lebih buruk dan kejam.
Novel
ini walaupun sudah hampir delapan dekade. Fenomena yang tergambarkan sepertinya
akan selalu relevan di berbagai masa. Seperti halnya pengubahan tujuh sila
hewan oleh para babi nampak relevan sekali dengan kondisi Indonesia akhir-akhir
ini, dengan isu rancangan UU Penyiaran, POLRI, dan juga TNI.
Untuk
kekurangan novel ini sendiri terdapat pada daftar isi maupun tajuk per-babnya. Pasalnya tak ada redaksi yang menjelaskan
bab satu menjelaskan tentang apa, hal ini berlaku hingga bab kesepuluh. Ihwal
ini akan membuat pembaca yang membaca tak dalam sekali duduk, sedikit kesulitan
mengingat alur cerita sebelumnya ketika hendak lanjut membaca. Disamping hal
tersebut, novel ini masih layak dibaca dan didiskusikan.
Magetan, 9 Juni 2024
BY: MNHB
Komentar
Posting Komentar