Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Langit dan Senja

  Bergegas kusiapkan barang bawaan yang tak begitu banyak. Ya, tak begitu banyak. Namun, bentuk yang kecil dan penuh printilan mengharuskanku meningkatkan kadar ketelitian saat menatanya di dalam tas. Hari ini ku berangkat tak seperti rutinitas sebelumnya yaitu di pagi hari, melainkan selepas duhur. Bimbingan pada dosen yang mendadak mengharuskanku mengikuti jadwal kosong beliau, Pak Muh. Kisahku hari ini bukan tentang Bimbingan dengan Pak Muh yang mendadak. Tapi perihal setelahnya. Tentang wanita bernama Senja. Pertemuanku dengan Senja hari ini memang telah ku jadwalkan semalam. Serba mendadak. Serba terburu-buru sebab rindu kami sudah membuncah. Oh iya, Senja adalah wanitaku, baru beberapa purnama kami bersama. Pertemuan kami berawal saat kami menjadi satu tim dalam sebuah agenda kampus. Satu bulan lebih masanya. Semua berawal saat pemberangkatan menuju lokasi agenda kampus ini. Entah apa yang kupikirkan. Kuputuskan untuk membonceng Senja tatkala menuju lokasi itu, Desa B. Obrola...

Malam yang Kulihat, Bukan Bintang

  Perjalanan Sal menuju puncak Gunung Lawu jalur Cemoro Sewu hari ini harus terhenti di pos 5 Jolotundo. Kelelahan dan hujan disertai badai petang tadi penyebabnya. Lagi pula perjalanan pendakian ini masih dalam kendalinya. Tidak molor. Mendirikan tenda di dekat warung menjadi keputusan yang telah ia rembuk dengan Lam. “ Kau bagian buat api unggun Lam! Biar aku yang menyiapkan masakan,” Ucap Sal sambil merajang kubis yang sudah hampir selesai. “ Kayaknya bakal lumayan lama ini apinya nyala, kayunya basah semua. Mana udah keburu lapar ini.” “Tenang kalo makanan cepet siapnya. Kamu lupa kalau kita bakalan masak pakek kompor portabel? Api unggun buat menghangatkan badan sama pakaian yang basah aja.” Lam seketika tepuk jidat. Sambil nyengar nyengir ia cepat memutar otak supaya apinya bisa segera menyala. Hening suara hiruk pikuk peradaban kota. Namun, keras suara jangkrik dan serangga lainnya seakan menjadi penggantinya. Seusai makan dan kegiatan lainnya. Mereka berdua merebahkan diri ...

Senapan

  Suara burung kutilang yang saling bersahut-sahutan di kebun belakang rumah . Menjadi semacam melodi alami pengiring hariku saat di kampung. Namun, ada hal yang akhir-akhir ini baru kusadari. Yaitu hilangnya kicauan beberapa burung lain yang dulu saat masa kecilku masih bisa kudengar bahkan kutemui wujud burungnya. Seperti burung sirtu yang berwarna hijau daun muda dan juga burung perenjak yang gesit dan lantang kicauannya. Mungkin kalau kutebak penyebab hilangnya burung-burung tersebut karena rusaknya habitat hingga mereka memilih bermigrasi. Atau kemungkinan kedua, sebab sering dipulut atau diambil sarangnya beserta anak burungnya oleh tetanggaku yang gila burung, Mas Laksa namanya. Ah, tapi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. *** Setelah selesai membersihkan kamarku. Kuputuskan merehatkan diri di teras rumah. Sambil membawa sebungkus rokok kretek, kuambil satu batang lalu membakar dan menghisapnya. Pandanganku mulai menyapu ke beberapa rumah tetangga. Sejurus pandan...