Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Jejak Bacaan Awal Tahun 2025 (1)

     Tahun ini memasuki tahun ketiga saya menjalani agenda membangun kebiasaan membaca. Setiap selesai membaca, saya membuat ulasan singkat sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Dari Januari hingga Agustus, sudah beberapa buku berhasil saya tuntaskan. Agar kesan dan wawasan dari buku-buku itu tetap terekam, saya menuliskannya dalam bentuk coretan atau pendapat pribadi. Berikut sedikit fafifu yang berhasil saya rangkum: 1. Jalan Tak Ada Ujung (Karya: Mochtar Lubis)      " Apa yang harus kita punya supaya kita terbebas dari ketakutan?" sebuah penggalan kalimat yang tersaji di awal novel satu ini.      Sudah menjadi salah satu target saya untuk diselesaikan yaitu membaca semua karya-karya Mochtar Lubis. Setelah dulu di tahun 2023 saya terpikat dengan Manusia Indonesa dan Senja di Jakarta-nya. Kini waktunya untuk karya beliau yang lain, yaitu Jalan Tak Ada Ujung.       Tahun lalu...

Pengibaran Bendera One Piece: Kalau Fiksi Saja Dicurigai, Lalu Apalagi yang Tersisa Dari Demokrasi Kita?

  (Ilustrasi: generate ChatGpt)     Akhir akhir ini Jolly Roger Mugiwara (Topi Jerami) menjadi sering diperbincangkan di media sosial. Lambang bajak laut dalam serial Anime One Piece ini kini ramai dikibarkan menjelang HUT ke-80 NKRI oleh para warga Indonesia, dari supir truk hingga warga sipil lainnya.      Pengibaran bendera bajak laut satu ini sebenarnya adalah simbol kekecewaan dari masyarakat atas kebijakan-kebijakan pemerintah belakangan dirasa menyulitkan rakyat. Tapi sebelum itu perlu kiranya kita mengetahui dulu apa sebenarnya makna dari bendera One Piece.   Jolly Roger Kru Mugiwara        Bendera hitam dengan simbol tengkorak yang memakai topi jerami merupakan lambang identitas dari kelompok bajak laut yang dipimpin oleh kapten bernama Monkey D Luffy, tokoh utama dalam serial ini. Dalam anime One Piece sebenarnya banyak macam macam lambang Jolly Roger. Masing masingnya memiliki simbol yang berbeda tergantu...

Antara Optimisme Hijau dan Realisme Tambang: Membaca Ulang Perdebatan Raja Ampat

Baru saja saya melihat video lengkap dari diskusi antar aktivis lingkungan  yang diwakili oleh Greenpeace dengan lawan bicaranya dari PBNU. Dimana keduanya berdiskusi atau lebih tepatnya berdebat tentang isu tambang di Raja Ampat. Sebetulnya memang agak terlambat kalau berbicara kehangatan isu ini yaitu tambang di Raja Ampat. Terlepas dari hal tersebut bagi saya menarik sekali membedah bagaimana sudut pandang kedua kubu dalam video tersebut berdebat. (Terlepas sebenarnya alasan awal saya memutuskan menonton video penuhnya adalah ingin mengetahui bagaimana bisa seorang tokoh NU bersikap dan melontarkan kata "Wahabi Lingkungan" sehingga video klip potongannya berseliweran di beranda sosial media saya) Dipandang Dari Kacamata Lingkungan  Jikalau menonton secara utuh videonya pasti kita bakalan bijak menyikapi debat ini. Satu sisi bertujuan untuk mengingatkan kalau sudahi eksplorasi merusak bumi dan mari beralih ke yang lebih ramah lingkungan. Deng...