Langsung ke konten utama

Magetan di Mata Iman Budhi Santosa

 


Judul buku: Magetan: Bumi Kelahiran

Penulis : Iman Budhi Santosa

Penerbit : Interlude

Tahun terbit: Desember 2023

Tebal : 14 x 21 cm, 142 halaman


Sosok Iman Budhi Santosa atau IBS merupakan salah satu tokoh sastra indonesia yang tak usah diragukan lagi kiprahnya dalam berkarya. Iman Budhi Santosa yang kerap dipanggil “Mas Iman” ini  di kalangan sastrawan tak pernah asing di telinga bila disebut. Beliau memang aktif di dunia sastra terutama di Yogyakarta.

IBS dalam buku ini yaitu “Magetan: Bumi Kelahiran” menuliskan bagaimana kenangan dan juga memori-memorinya yang membekas hingga akhir hayatnya tentang Magetan. Buku ini berisi kumpulan esai-esai perihal memoar IBS saat masa kecilnya tinggal di tanah kelahirannya Magetan.  Serta di buku ini pula, kita para pembaca dapat mulai mengenal bagaimana sosok serta kebiasaan IBS yang gemar menulis dibentuk.

Magetan dalam pandangan IBS sangatlah monumental. Di tengah deruan zaman yang terus berubah, ingatan tentang kampung halamannya kerap muncul. Ketika kemunculan lembaran-lembaran ingatan tersebut pastilah ada pemantiknya. Sebagaimana yang dituliskan  beliau:

Betapa pun membingungkannya keberadaan Magetan di balik sekian aksesori yang dimiliki, ternyata ia juga telah merekam ribuan monumental eksistensial yang unik. Persoalannya, nilai-nilai Magetan begitu menyusup ke lubuk hati terdalam, enggan bangkit sebelum memperoleh bingkai yang tepat dan serasi untuk lahir sebagai lukisan.” (Hal.8)

Gagasan-gagasan yang terkandung di buku ini sarat akan pelajaran hidup terutama nasihat-nasihat orangtua. Dikemas dengan bahasa yang ringan khas pembawaan IBS, membuat buku ini layak dibaca siapapun, terkhusus mereka yang ingin mengenal IBS dan juga Magetan.

Ketika membuka buku ini pembaca akan disuguhi sejarah singkat bangku pendidikan yang dirasakan oleh IBS kala kecil hingga remaja. Pada bab bertajuk “sekolah laku prihatin” ini, saat jenjang TK hingga SMP disini IBS sudah dilatih oleh sosok ibu dan kakeknya agar “tirakat.” Dengan bentuk tidak diberi sangu serta dilarang jajan, baik itu makan atau minum ketika sekolah. Pada bab ini pula pembaca akan mendapati bagaimana pemaknaan IBS atas perilaku yang diberikan oleh ibu serta kakeknya saat sekolah tersebut.   

Selanjutnya, ada satu bab pula dimana tertuliskan pengalaman IBS saat kelas 2 SMP mengenai fenomena bunuh diri yang terjadi di jembatan sungai Gandong, Magetan. Kala itu sepulang sekolah, ramai-ramai anak sekolah menuju ke jembatan tersebut. Kerumunan orang yang melihat telah mendapati korban bunuh diri di bawah jembatan tersebut sudah tak bernyawa. Pengalaman masa kecil IBS tentang jembatan Gandong ini kelak akan menjadi pemantik beliau untuk menulis buku yang berjudul “Tali Pati.” Sebuah buku tentang fenomena bunuh diri di Gunung Kidul.

Sepanjang membaca buku ini, pembaca akan menyadari sosok kakek yang sangat penting perannya dalam mendidik IBS kecil. Dari didikan beliau lah kebiasaan merespon segala sesuatu dengan logika terlebih dahulu dan juga menulis ditanamkan sejak dini. Seperti pada bab “Mencatat dan Mencatat, Dengkur Uwi, serta Bunga Pisang.”

Manusia merupakan makhluk yang pelupa. Maka dari itu perlu rajin-rajin mencatat apapun peristiwa yang kita alami. Seperti nasehat sang kakek dalam buku ini:

Menungso kuwi gampang lali, Le. Mula kowe kudu sregep nyatheti. Nyatethi apa wae kanggo pengeling-eling. Mbesuk yen simbah lan ibumu wis ora ana, cathetanmu kuwi bisa dadi gantine wong tuwo. Bisa dadi buku. Bisa ngandhani lan ngelingake sing lali....”

Bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai berikut “Manusia itu mudah sekali lupa, nak. Maka dari itu kamu harus rajin mencatat. Mencatat apa saja untuk dijadikan pengingat. Nanti jikalau kakek dan ibumu sudah tiada, maka catatanmu lah yang kelak jadi orangtuamu. Bisa jadi buku. Bisa pula menasehati dan mengingatkan kamu saat lupa.”

Dari nasehat tersebutlah setiap hal yang IBS lihat, dengar, serta alami bila dirasa penting selalu dicatatnya dalam buku catatan. Dengan aturan, ketika mencatat tidak diperkenankan asal-asalan, namun harus rapi lalu disimpan. Pun catatan-catatan tersebut harus dibaca kembali sekali waktu. Agar pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang lalu tidak terlupakan .

Buku ini terbit tatkala sosok IBS telah wafat dan bisa dibilang juga sebagai salah satu karya terakhirnya. Sebab isi buku ini diambil dari draf tulisan yang belum sempat IBS terbitkan tatkala masih hidup . Walaupun karya terakhir, buku ini malah patut dijadikan opsi bacaan pengantar bagi pembaca yang ingin menilik karya IBS lainnya. Ibarat sebuah rumah, buku ini adalah pintu gerbangnya.  Selain itu buku ini kaya akan pelajaran-pelajaran dan filosofi hidup yang masih relevan diterapkan di masa kini.(*)


Bulukerto, 15 Juli 2024

MNHB

Komentar